VISTA NUSANTARA – Desa Delanggu, Klaten yang terkenal akan komoditas berasnya, ternyata juga menyimpan potensi wisata budaya agraris di dalamnya. Tidak hanya menghasilkan beras yang berkualitas tinggi, namun Rojolele juga memiliki sejarah panjang menarik yang dapat dikembangkan menjadi wisata agraris. Penamaan “Rojolele” misalnya, yang berasal dari kata Rojo dan Thole-thole yang berarti raja dan anak laki-laki yang menanam padi bersama. Menilik potensi yang ada, Tim Pelaksana PPK Ormawa KSP “Principium” 2024 yang diketuai oleh Rio Dwi Prasetiya beserta Mitra Pentahelix bekerja sama membuat Omah Rojolele yang diharapkan dapat menjadi wadah pengembangan dan penyebarluasan budaya agraris yang telah dimiliki oleh Rojolele.
Tim Pelaksana PPK Ormawa KSP Principium melakukan Pelatihan Tata Kelola Aset Budaya dan Website Omah Rojolele pada malam hari, 19 Agustus 2024 di Sanggar Rojolele, Desa Delanggu yang dihadiri oleh Rysca Indreswari, S.Pt., M.Si. selaku Ketua Bina Desa Center UNS, Dr. Muhammad Rustamaji, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing PPK Ormawa KSP Principium, Kepala Desa Delanggu, Kelompok Wanita Tani Desa Delanggu, Karang Taruna, Ketua Sanggar Rojolele, Masyarakat Petani Desa Delanggu, serta Supporting Team Ormawa KSP Principium. Pelatihan ini ditujukan kepada warga dengan tujuan agar nantinya warga dapat mengelola aset budaya dan website yang ada di Omah Rojolele sehingga dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Diharapkan nantinya warga mendapat insight yang bermanfaat mengenai pengelolaan aset budaya yang saat ini telah menjadi rintisan budaya serta digitalisasi pada website Omah Rojolele.
Omah Rojolele diwujudkan dengan living museum yang berisi tentang keseharian warga agraris dengan disertai budaya terkait pertanian yang tersusun secara terstruktur dari proses penanaman padi hingga menjadi nasi di atas piring. Dengan adanya Omah Rojolele, diharapkan bahwa generasi yang akan datang bisa belajar mengenai budaya agraris Indonesia melalui Omah Rojolele. Selain itu, potensi budaya agraris juga dikombinasikan dengan wisata air serta wisata budaya lain yang berada di sekitar kawasan Omah Rojolele untuk kemudian dikembangkan menjadi paket budaya yang menarik. Paket budaya ini sebagai upaya untuk membuat budaya yang ada menjadi tetap lestari.
Pelatihan Tata Kelola Aset Budaya dan Website Omah Rojolele menghadirkan 2 orang pembicara, yaitu Rosnendya Yudha Wiguna yang menjelaskan mengenai tata kelola aset budaya dan Igih Wigani yang menjelaskan mengenai tata kelola website.
“Budaya merupakan hasil ngabektine manungsa maring gusti” ujar Rosnendya Yudha Wiguna yang memiliki arti bahwa budaya adalah hasil dari berbaktinya manusia kepada Tuhan. Contohnya adalah seperti tradisi wiwitan yang berupa pengungkapan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dapat memberikan keselamatan pada petani agar padi dapat tumbuh subur di sawah mereka.
“Bapak ibu adalah pejuang tani yang hebat. Meneruskan perjuangan wali songo. Tidak gampang menjadi petani, harus memiliki mental yang besar. Kalau mentalnya tipis, lewat.” tegas Rosnendya Yudha Wiguna pada para petani di Desa Delanggu. Menjadi petani tidak hanya menanam serta memanen padi saja, namun banyak keringat, pemikiran, serta tenaga yang harus dikeluarkan agar tersedianya sepiring nasi di atas meja makan keluarga Indonesia.
Masih adanya petani di Indonesia membawa serta arti bahwa budaya agraris sejatinya masih hidup di jiwa bangsa Indonesia. Namun, budaya ini tentunya memerlukan tata kelola yang baik agar senantiasa lestari. Tata kelola dapat dilakukan dengan cara menemukan sejarah hingga menyiarkan sejarah. Heuristik atau menemukan sejarah dapat dilakukan dengan bertanya ke sepuh (orang yang dituakan). Hal ini tentunya dapat membuka literasi mengenai suatu filosofi. Seperti terbukanya filosofi Rojolele yang memberikan pelajaran luar biasa mengenai seorang pemimpin yang mau turun beserta masyarakatnya.
Setelah menemukan filosofi suatu sejarah, sejarah tersebut harus diverifikasi. Verifikasi di sini berarti memilah dan memilih muatan dari sumber yang ada (seperti tabayyun atau buku lama). Terakhir, budaya tersebut juga harus disiarkan atau disebarluaskan kepada masyarakat luas, terlebih anak muda agar budaya bisa tetap lestari.
“Jangan kalah dengan negara asing yang meneliti dan mempelajari bidang apa saja termasuk budaya. Hal ini agar terciptanya lestari budaya di Indonesia. Kita disebut memiliki tanah emas karena di bumi Indonesia ini tersedia apapun yang dibutuhkan.” tutup Rosnendya Yudha Wiguna dalam pemaparannya.
Pemaparan dilanjut oleh Igih Wigani mengenai tata kelola website Omah Rojolele. Website Omah Rojolele menjadi media untuk mengenalkan Omah Rojolele, Sanggar Rojolele, serta produk Beras Rojolele dengan cara yang lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
“Itu sebenarnya keresahan kami pak. Kami bersama Bu Rysca mengecek hak paten Rojolele ternyata dimiliki orang Jakarta. Keresahan itu kami sampaikan ke pemerintah, kami yang menanam namun orang lain yang mempunyai hak paten. Bukan beras Rojolele namun dicap sebagai Beras Rojolele. Prinsipnya merugikan petani rojolele.” tutur warga mengenai keresahannya atas hak cipta Rojolele. Dengan adanya website, diharapkan bisa menjadi wadah edukasi dan sekaligus promosi mengenai Beras Rojolele yang asli yaitu berada di Desa Delanggu Klaten.
“Diharapkan Rojolele semakin memiliki kredibilitas dengan adanya website Omah Rojolele. Tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, namun juga bisa mendunia. Dengan adanya website, semua lebih mudah untuk diakses.” harap Igih Wigani
Website memiliki peran penting. Yaitu visibilitas dan aksesibilitasnya yang dapat dijangkau 24 jam oleh masyarakat global tanpa batasan geografis sehingga dapat menyebarkan informasi kapanpun dan kepada siapapun yang online. Selain itu, website yang dibuat dengan kredibilitas tentunya dapat menghasilkan income bagi pengelola Omah Rojolele dan warga sekitar.
Website juga bisa menampilkan testimoni, produk, harga, serta menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan ini, masyarakat lebih mudah dalam memperoleh informasi terkait produk Rojolele. Website menjadi media pemasaran dan promosi digital yang paling efektif di era modern, juga paling murah apabila dibandingkan memasang iklan di tv maupun koran.
“Untuk admin, Mas Eksan bisa menjadi super admin. Admin lain bisa berjumlah 3 orang atau lebih. Website bersifat fleksibel dan bisa digunakan untuk ratusan user.” papar Igih Wigani dalam penyampaian materinya. Selain mengenai admin, Igih juga menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan website.
Dengan adanya pelatihan tata kelola aset budaya dan website Omah Rojolele, diharapkan nantinya aset budaya yang terdapat di dalam Omah Rojolele dapat senantiasa lestari dan walaupun kegiatan PPK Ormawa nanti telah selesai, warga dapat mengelola website yang ada di Omah Rojolele secara mandiri dan mengembangkannya sendiri.
