?>

Tag: Band

  • Iva Vina, Simfoni Talenta dari Bandung yang Tak Pernah Diam

    Iva Vina, Simfoni Talenta dari Bandung yang Tak Pernah Diam

    VISTA NUSANTARA – Di kota kreatif seperti Bandung, tidak sulit menemukan seniman. Tapi menemukan sosok seperti Iva Vina, itu cerita lain.

    Ia bukan hanya seorang vokalis dengan suara penuh rasa, tapi juga kreator visual, perias, stylist, pendiri rumah produksi, hingga mentor bagi bakat-bakat muda. Dalam satu tubuh, tersimpan banyak talenta yang tak ingin diam.

    Baru-baru ini, Iva kembali jadi pembicaraan ketika tampil sebagai stylist untuk band Phantom dalam sebuah gigs yang digelar di Taman Braga. Dengan penampilan yang matang dan penuh karakter, Iva menghadirkan konsep visual yang kuat, menyatu dengan musik Phantom yang penuh energi nostalgia.

    Yang menarik, salah satu personel Phantom adalah Lani Alfian, gitaris sekaligus penulis lagu kawakan yang telah bekerja sama dengan banyak artis nasional. Lani adalah salah satu orang pertama yang percaya pada kapasitas Iva, tak hanya di atas panggung, tapi juga di balik layar. “Dia punya insting. Punya rasa. Itu nggak bisa diajarin, itu tumbuh,” kata Lani tentang Iva.

    Perjalanan Iva sendiri dimulai sejak kecil—dari panggung lomba menyanyi, modeling, storytelling, hingga teater di Jakarta. Kini, lewat AI Production, Iva membuktikan dirinya sebagai penggerak: menciptakan ruang bagi sineas muda, videografer, MUA, dan talenta baru yang ingin bersinar.

    Di balik semua aktivitasnya, ada satu hal yang tetap jadi pusat semesta Iva: keluarganya. Putranya, Ahda Zunnur, adalah model cilik yang juga aktif di dunia film dan periklanan. Mereka bahkan sempat bermain bersama dalam film layar lebar “Sang Penjaga Hati” garapan sutradara muda Adrian Oktara.

    “Saya ingin anak saya tumbuh dengan melihat bahwa bekerja bisa penuh cinta, bukan hanya kewajiban,” ungkap Iva.

    Melihat sepak terjangnya, sulit untuk menyematkan satu label pada Iva Vina. Ia adalah creator, collaborator, mother, mentor—semuanya bersatu dalam harmoni. Seperti lagu yang tak pernah selesai, perjalanan Iva masih terus berlanjut.

    Dan dari Bandung, gema kreatifnya mulai menyebar.***

  • Album ‘SARIMBAGAN’ Jadi Titik Puncak Ekspresi Jujur Band SAR

    Album ‘SARIMBAGAN’ Jadi Titik Puncak Ekspresi Jujur Band SAR

    VISTA NUSANTARA – Setelah melalui proses panjang dan merilis enam single secara bertahap, band SAR akhirnya resmi merilis album perdana mereka bertajuk “SARIMBAGAN”, sebuah karya penuh makna yang memuat kisah, rasa, dan refleksi mendalam dari perjalanan musikal mereka.

    “SARIMBAGAN” terdiri dari 11 track pilihan yang menyuarakan beragam emosi: dari keluh kesah, kekesalan, hingga harapan. Album ini bukan hanya sebuah rangkaian lagu, tapi juga representasi kejujuran SAR dalam bermusik—sebuah medium untuk merayakan keberanian, kebahagiaan, dan ketulusan dalam menyampaikan pesan.

    “Sebagai musisi, kami merasa belum lengkap jika belum menyusun karya dalam bentuk album. SARIMBAGAN lahir dari proses yang panjang, penuh tantangan, tapi juga sangat memuaskan secara emosional,” ujar perwakilan SAR.

    Album ini merupakan bentuk konsistensi SAR dalam berkarya dan memperluas cakupan musikal mereka. Setelah mendapat sambutan hangat dari berbagai single sebelumnya, SAR ingin membawa para pendengar ke dimensi yang lebih utuh lewat full-length album yang digarap dengan totalitas.

    SAR mengajak para pendengar untuk menikmati “SARIMBAGAN” di berbagai Digital Streaming Platform (DSP) serta channel YouTube resmi mereka, di mana musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang jujur untuk merasakan dan dipahami.

    “Kami percaya bahwa bermusik adalah tentang menyampaikan yang tidak bisa diucapkan. Dan album ini adalah sarana kami untuk berbagi, bukan sekadar bunyi, tetapi juga rasa,” tutupnya.

    (Red)

  • ‘Aurora’ Jadi Langkah Baru Electric Bird, Lebih Liris, Lebih Lokal, Lebih Peduli

    ‘Aurora’ Jadi Langkah Baru Electric Bird, Lebih Liris, Lebih Lokal, Lebih Peduli

    VISTA NUSANTARA – Grup band garage rock asal Surabaya, Electric Bird, kembali hadir dengan single terbaru berjudul “Aurora”, yang akan menjadi bagian dari album kedua mereka, “Odyssey”. Lagu ini menggambarkan keresahan mendalam akan kerusakan lingkungan yang semakin masif, akibat keserakahan dan ketidakpedulian manusia, termasuk para pemimpin yang acuh terhadap dampak kehancuran tersebut.

    Dalam liriknya, single “Aurora” menggunakan bahasa ironi untuk menceritakan keindahan alam yang terus digerus oleh kepentingan tertentu. Menariknya, ini adalah lagu pertama Electric Bird yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

    Dengan langkah ini, unit yang digawangi oleh Vicky (gitar) dan Dafa (gitar) dan Danu (bass/vokal) ini berharap pesan yang diusung dalam lirik dapat tersampaikan lebih dekat ke hati para pendengar.

    Proses kreatif dalam pembuatan “Aurora” sarat akan eksplorasi musikalitas baru. Vicky dan Dafa yang tengah berada dalam fase eksplorasi ambience gitar, menghadirkan pengaruh besar pada pengisian gitar, sound, dan karakter baru dalam lagu ini.

    “Kebiasaan mengeksplorasi sound memberikan identitas segar yang benar-benar terasa di ‘Aurora’,” ungkap Vicky.

    Sementara itu, Danu mengaku menghadapi tantangan baru dalam menulis lirik berbahasa Indonesia. Pasalnya, selama ini Electric Bird selalu menggunakan bahasa Inggris dalam lagu mereka.

    “Proses ini cukup menantang, tetapi memberikan banyak ruang eksplorasi, baik secara lirik maupun musik,” tutur Danu.

    Kehadiran produser Julio Mulya juga memberikan perspektif baru bagi Electric Bird. Julio membawa nuansa akustik, ambience, hingga tambahan synth dan notasi yang menyempurnakan dinamika lagu. Danu bilang, Julio berhasil memberikan sentuhan yang memperkaya isian gitar dan atmosfer keseluruhan lagu.

    Single “Aurora” ditulis oleh Rahmana Wiradanu dan Vicky Aslam, dengan lirik oleh Danu. Lagu ini diproduseri oleh Julio Mulya, sementara proses mixing dan mastering ditangani oleh Prasimansyah. Hasilnya, kolaborasi ini menciptakan sebuah karya penuh energi dengan pesan yang kuat dan menyentuh.

    Dibentuk di Surabaya, Electric Bird dikenal dengan genre garage rock. Band ini memulai kariernya dengan perilisan album debut mereka, “Stings You Hard” yang dilepas pada 2019. Setelah mengalami beberapa pergantian personel, terutama di posisi drum, formasi saat ini terdiri dari Danu, Vicky, dan Dafa, yang tengah fokus mengeksplorasi sound dan ambience baru untuk album kedua mereka, “Odyssey”.

    Wardogs (2018)
    Stings You Hard (Album, 2019)
    Shut It Out (Single, 2021)
    Broken Heart Youth (Single, 2021)
    Sixx (Single, 2022)
    Electrichestra (EP, 2023)
    Sious (Single, 2024)
    Aurora (Single, 2024)

    Saat ini, single “Aurora” milik Electric Bird kini sudah tersedia di semua platform streaming digital.

    (Red/Reallist Management)

  • Wen & the Wknders Panaskan Panggung Opus Musicalis: “Senang, Bahagia, dan Bangga!”

    Wen & the Wknders Panaskan Panggung Opus Musicalis: “Senang, Bahagia, dan Bangga!”

    VISTA NUSANTARA – Unit musik indie asal Bandung, Wen & the Wknders, kembali menyapa para penikmat musik lewat penampilan mereka di acara Opus Musicalis Bandung yang digelar oleh komunitas kreatif Titik Koempul (Tikpul), Rabu (16/042025). Acara ini menjadi ajang temu dan apresiasi bagi musisi lokal untuk tampil dan berbagi karya.

    Tak sendiri, Wen & the Wknders tampil satu panggung bersama band Trian, yang juga berasal dari kota yang sama. Suasana hangat dan intim menyelimuti acara yang digelar di Pendopo, tempat yang memiliki nilai historis dan kedekatan dengan skena kreatif Kota Bandung.

    Formasi Wen & the Wknders yang terdiri dari Wenang (vokal), Lupi (gitar), Isyan (bass), dan Demi (gitar) membawakan enam lagu dalam penampilan mereka malam itu, yaitu Jumpa Mentari, Aku Masih di Sini, Tak Mungkin Kembali, Rindu Sesaat, Mencari Penggantimu, dan Too Far Away.

    “Ini sebuah kehormatan dan kebanggaan luar biasa bisa tampil di event berkelas seperti ini. Senang, bahagia, dan bangga,” ungkap Wenang, sang vokalis, usai tampil.

    Lupi, gitaris pertama, menambahkan, “Acaranya bagus, sound-nya juga oke, dan yang paling penting bisa menampung musisi lokal. Semoga ke depannya Tikpul bisa jadi panggung besar.”

    Senada dengan rekan-rekannya, Isyan sang bassis mengaku senang bisa terlibat, “Tampil di sini asik, intinya kami senang sekali bisa diundang.”

    Sementara Demi, gitaris kedua, menyampaikan, “Merasa terhormat bisa ketemu para musisi Bandung, ini kesempatan yang berharga.”

    Wen & the Wknders hingga saat ini telah merilis enam single, dan tengah mempersiapkan debut album penuh yang dijadwalkan rilis pada tahun 2025.

    Penampilan mereka di Opus Musicalis menjadi bukti konsistensi dan semangat mereka dalam meramaikan industri musik tanah air, khususnya dari skena independen Bandung.

     

    (Red)

  • ‘Simulacra’ EP Terbaru Reiwa, Sajikan Perspektif Tajam Lewat Musik Metal

    ‘Simulacra’ EP Terbaru Reiwa, Sajikan Perspektif Tajam Lewat Musik Metal

    VISTA NUSANTARA – Unit musik modern metalcore asal Karawang, Reiwa, dengan bangga mengumumkan perilisan EP terbaru mereka yang berjudul “Simulacra”, yang sudah meluncur dalam format digital pada 26 Februari 2025 kemarin.

    Lewat keterangan tertulisnya, grup band yang digawangi oleh Dendi Alamsyah (Vocal), Septian Satriani (Guitar), dan Dadang Suhendar (Drum) ini mengatakan bahwa EP “Simulacra” hadir sebagai karya yang mengangkat tema fenomena sosial, menyuguhkan perspektif tajam terhadap realitas yang sering kali terdistorsi oleh ledakan informasi dan hegemoni kekuasaan.

    Dendi Alamsyah, sang vokalis mengatakan bahwa lewat tiga lagu yang masing-masing berjudul “Anosmia Empati”, “Bigot”, dan “Fundamental”, Reiwa menyampaikan kritik yang mendalam terhadap bias kebenaran yang dapat memicu konflik horizontal.

    “Simulacra” bukan hanya sekadar suguhan musikal, tetapi juga penerjemahan ideologis kami terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar,” ujar Dendi.

    Dalam penggarapannya, proses kreatif EP ini melibatkan kolaborasi dengan My September Record dalam urusan produksi, Jefry Johanas untuk departemen artwork, dan Agus Firmansyah di aspek visual.

    *Reiwa sendiri merupakan band yang terbentuk pada akhir tahun 2019 atas inisiasi mantan bassist mereka, Ryan Vidia. Nama “Reiwa” diambil dari istilah di Negeri Matahari Terbit, yang melambangkan era baru yang mengedepankan kebudayaan dan perdamaian

    Pada 2021 lalu, unit ini memulai debut mereka dengan single instrumental berjudul “Hemodialysis”. Setelah formasi awal mengalami perubahan, Reiwa kini terdiri dari tiga personil utama.

    Dalam perjalanannya, Reiwa tercatat telah merilis beberapa single, seperti “Hanana”, “Last Dance”, dan “Ace”, yang mendapatkan sambutan positif di berbagai platform digital.

    Dengan perpaduan vokal yang kuat, riff gitar yang energik, dan ketukan drum yang dinamis, Reiwa konsisten menonjolkan identitas musik mereka yang unik.

    Melalui EP “Simulacra”, Reiwa berharap dapat menginspirasi pendengar untuk lebih kritis dalam melihat realitas di tengah derasnya informasi yang sering kali bias.

    Kelahiran EP ini sekaligus menjadi langkah besar bagi Reiwa untuk memperluas jejak mereka di dunia musik Indonesia.

    Saat ini, tiga materi dalam EP “Simulacra” milik Reiwa sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

    (Red)

  • The People of the Sun Perkenalkan ‘Two Tickets’, Gerbang Menuju Album Perdana

    The People of the Sun Perkenalkan ‘Two Tickets’, Gerbang Menuju Album Perdana

    VISTA NUSANTARA – Grup band rock asal Surabaya, The People of the Sun (POTS) dengan bangga mengumumkan perilisan single terbaru mereka berjudul “Two Tickets”, yang menjadi bagian dari album perdana yang akan datang.

    Sebagai single ketiga POTS, “Two Tickets” merupakan lanjutan dari maxi-single yang dirilis akhir 2024. Lagu ini membawa harapan besar untuk menjadi gerbang menuju album perdana mereka.

    Di tengah pengerjaan maxi-single “Akal/Bagaimana Jika Gelap”, Naykilla diminta untuk mengisi vokal di salah satu trek. Saat itu pula, ide kolaborasi vokal di single “Two Tickets” muncul dan berhasil dieksekusi, membuat lagu ini menjadi kolaborasi pertama POTS dengan musisi lain.

    Dengan kolaborasi dan eksplorasi musik yang matang, unit yang digawangi oleh Adria Riswinanda (gitar, produser), Johannes Febrianto Elyas (gitar, vokal), Rahmana Wiradanu (bass, vokal), dan Bimo Putranto Widiyahutomo (drum, songwriter) ini berharap “Two Tickets” dapat menyentuh hati pendengar dan menjadi karya yang relevan bagi siapa pun yang mendengarkannya.

    Bimo Putranto Widiyahutomo, drummer POTS, menjelaskan bahwa lagu ini adalah eksplorasi dari berbagai elemen yang telah lama ada.

    “Liriknya sudah ditulis sejak 2016 tetapi tidak menemukan tempat yang tepat. Baru di 2022, ketika POTS terbentuk dan kami aktif workshop, ide untuk memasukkan lirik dan vokal muncul. Namun, proses pengerjaannya baru rampung pada 2024 setelah pergantian personil yang membawa semangat baru,” ucap Bimo.

    Dalam liriknya, lagu ini menghadirkan perspektif seorang pria yang mengungkapkan perasaannya terhadap pasangan, menggambarkan momen-momen kebersamaan yang begitu berarti hingga ia yakin untuk menawarkan “dua tiket hingga akhir dunia”—sebuah kiasan indah untuk mengajak ke jenjang hubungan yang lebih serius.

    Proses kreatif dalam penggarapan “Two Tickets” melibatkan seluruh personil POTS, dari para pemain tambahan hingga manajer band yang berkontribusi dalam aransemen. Lagu ini sepenuhnya dikerjakan secara in-house di 912studio, milik gitaris mereka, dengan dukungan Naykilla, yang turut mengisi vokal. Mixing dan mastering dilakukan oleh Avedis Mutter, menghasilkan kualitas audio yang memuaskan.

    Single “Two Tickets” adalah karya dengan nuansa soft, mengurangi elemen elektronik dan lebih fokus pada pendekatan organik. Lagu ini mencerminkan proses kreatif yang jujur, tanpa banyak intervensi distorsi, dengan aransemen vokal yang memberikan kesan emosional mendalam.

     

    (Red)

  • ‘Pekik Hening di Lantang Angan’, Album Penuh Rangkai Yang Kontemplatif dan Penuh Makna

    ‘Pekik Hening di Lantang Angan’, Album Penuh Rangkai Yang Kontemplatif dan Penuh Makna

    VISTA NUSANTARA – Sambutah Pekik Hening di Lantang Angan. Hadir menyusul tiga single yang telah ditetaskan sejak 2023, yaitu “Seperti Rindu”, “Mesra Tanpa Kata”, dan “Puan, Kau Beri Nyawa”, album penuh Rangkai rilis menjelang Ramadan 1446H, tepatnya 28 Februari 2025.

    Sebagai penyambutan bulan penuh renungan, introspeksi dan pengendalian diri, Pekik Hening di Lantang Angan merupakan gabungan hal tersebut. Judul album ini adalah resonansi atas mendiang Ade Firza Paloh, selaku produser album, setelah mengupas-menguras isi kepala dan sukma tiga personel Rangkai yang berkarib sejak Agustus 2022.

    Sejak itulah Ade Firza Paloh intens bersama Rangkai melalui diskusi-diskusi yang kian meluas, meninggi sekaligus mendalam. Dalam permenungannya, ia rangkum 11 nomor track album dengan kalimat “Kalian itu bak kumparan, seperti tak bergerak padahal laju rotasi tinggi. Cocoknya Pekik Hening di Lantang Angan” ujar Bang Ade, panggilan akrab semasa hayatnya.

    Bersama dengan Setengah Lima Records, Rangkai melanjutkan proyek album penuh ini walau tanpa bimbingan produser yang mereka junjung. Hidup harus terus berjalan, pikir mereka. 11 lagu yang mereka tuangkan dalam album ini adalah saripati perjalanan ke dalam diri yang pasti dialami setiap individu yang berpikir.

    “Ini proses produksi yang ternyata menguras banyak hal, dari tenaga sampai waktu tidur. Tapi dari proses yang lumayan panjang ini meyakinkan gue bahwa rezeki itu bisa datang dari mana aja dan gak harus berupa duit. Bahwa bisa kolaborasi sama musisi-musisi yang biasanya kita cuma bisa nonton mereka, itu hal yang wah banget buat gue pribadi.” tambah Mirza Elba Febrian, gitaris Rangkai.

    Bisa dibilang Pekik Hening di Lantang Angan kontemplatif, perlu kesadaran spiritual atau bahkan religius untuk menyesapkannya secara nikmat. Bukan lantas terbatasi akan nasehat apalagi syariat, album ini adalah biskuit pendamping kopi pahit yang bernama jalan hidup. Atau justru sebaliknya, inilah kopi pahit pendamping biskuit manis bernama kesenangan hidup. Menerima hidup apa adanya. Serba berkecukupan.

    Layaknya kebahagiaan, ketenangan jiwa pun harus diraih dan diupayakan dari dalam diri. Salah satunya lewat penerimaan jalan hidup. Maka, diputuskanlah pada bulan Ramadan 2025 Pekik Hening di Lantang Angan ditayangkan secara luas di semua gerai musik digital untuk seksama diperdengarkan. Satu nomor andalan yang ditawarkan saat peluncurannya yaitu “Selam Hati Sulam Diri”.

    Sebuah lagu hasil kolaborasi dengan Endah Widiastuti, vokalis Endah N Rhesa. Menurutnya “Ketika Rangkai mengajak saya untuk mengisi vokal untuk lagu Selam Hati Sulam Diri, tentu saja saya langsung menyanggupi karena sudah mendengar materi albumnya yang konseptual. Proses rekamannya juga menyenangkan karena saya diberi kebebasan untuk improvisasi mencari nada dalam merespon melodi vokal Bimo. Lagu ini memiliki kesan tersendiri di hati saya karena lirik dan bunyi Rangkai yang menarik.”

    Nomor-nomor track dalam album ini disusun berdasarkan 6 masa penciptaan di Al-Quran, yaitu 1. ledakan pertama dan munculnya cahaya (“Api”, “Kejora Cinta”), 2. Jagad mengembang (“Ruang”, “Seperti Rindu”, “Mesra Tanpa Kata”), 3. Unsur alam mulai menemukan bentuknya (“Isyarat Hawa”, “Puan Kau Beri Nyawa”), 4. Benturan alam raya (“Pertengkaran”, “Tabir”), 5. Alam mulai stabil (“Selam Hati Sulam Diri”), dan 6. Alam regenerasi (“Seberang Fana”).

    Formasi trio Rangkai, yaitu Mirza (Gitar Klasik) dan Rai (Kontrabas) dan Bimo (Vokal, Gender/gamelan Jawa). Selain Ade Firza Paloh sebagai produser album dan Setengah Lima Records sebagai produser eksekutif, Rangkai dibantu oleh banyak pihak dalam pengerjaannya. Dihiasi oleh artwork besutan Khalid Albakaziy, mixing-mastering oleh Ruang Waktu Music, Lokale Satin Studio, serta Earspace Studio.

     

    (Red)

?>