?>

Tag: Reallist Management

  • Main-Main di Cipete Kembali Hangatkan Komunitas Musik Jakarta Selatan

    Main-Main di Cipete Kembali Hangatkan Komunitas Musik Jakarta Selatan

    VISTA NUSANTARA – Program musik mingguan, Main-Main di Cipete Volume 23 kembali digelar pada Senin malam, 4 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB di Casatopia Cafe, Jakarta Selatan.

    Acara yang telah menjadi ruang ekspresi bagi musisi independen ini menghadirkan empat penampil dengan karakter musikal yang beragam, mereka adalah The Oldest, More Ink, Gen Brothers, dan LJF Band.

    Dipandu oleh dua host yang sudah akrab dengan dunia musik alternatif, Eno Suratno Wongsodimedjo dan Andree Stroo, Volume 23 berlangsung hangat dan penuh energi.

    LJF Band membuka malam dengan performa yang kuat, membawakan lagu-lagu dari album terbaru mereka, “Kehadiran”, termasuk “Tiada Berubah” dan “Kesan Pertama” yang berhasil menyentuh hati para penonton.

    Gen Brothers, trio yang terdiri dari Jazzy Yudhistira, Yovidiaz Syakti Tiptony, dan Abimanyu Vivaldi Kurniawan, hadir membawakan lagu-lagu seperti “Jika Bersama” dan “Hapus Rasa” dengan sentuhan pop modern yang berpadu dengan elemen jazz dan soul.

    Disusul oleh More Ink, band asal Tangerang Selatan yang tampil dengan gaya alternative rock melankolis. Lagu-lagu mereka seperti “Not Your Favorite Tale” dan “Amber” membawa suasana menjadi lebih intim dan emosional.

    The Oldest menutup malam dengan nuansa pop yang reflektif. Meski belum banyak dikenal secara luas, penampilan mereka membawakan lagu-lagu semisal “Stay”, menunjukkan kedalaman musikalitas yang menjanjikan.

    Main-Main di Cipete, yang digagas oleh Reallist Management, terus menjadi wadah penting bagi musisi lokal untuk menampilkan karya orisinal mereka. Tanpa tiket masuk dan dengan atmosfer yang inklusif, acara ini memperkuat komunitas musik independen di Jakarta Selatan, menjadikan Casatopia Cafe sebagai titik temu antara musisi dan penikmat musik yang mencari kejujuran dalam karya.

    (Red)

  • Casatopia Cipete Jadi Rumah Musik Alternatif, Main-Main Vol. 22 Suguhkan 5 Penampil Unik

    Casatopia Cipete Jadi Rumah Musik Alternatif, Main-Main Vol. 22 Suguhkan 5 Penampil Unik

    VISTA NUSANTARA – Program musik mingguan Main-Main di Cipete kembali hadir dengan Volume ke-22 pada Senin malam, 28 Juli 2025, bertempat di Casatopia Cafe, Cipete, Jakarta Selatan. Dipandu oleh Eno Suratno Wongsodimedjo, acara ini kembali menjadi ruang ekspresi bagi musisi independen lintas genre yang tengah berkembang di skena musik alternatif Indonesia.

    Volume kali ini menghadirkan lima penampil dengan karakter musikal yang unik dan beragam. Celupan Pertama membuka malam dengan gaya jenaka dan kritis yang menjadi ciri khas mereka. Proyek musik yang digagas oleh Soule Shuo ini dikenal lewat lagu-lagu seperti “Jet Pribadi” dan “Jakarta Bandung”, yang mengangkat keresahan sosial dengan pendekatan humor dan aransemen yang ringan namun tajam.

    Danes Rabani, penyanyi muda yang telah dikenal lewat berbagai karya orisinal seperti “Remember” dan “Siasat Jitu, tampil dengan nuansa nge-band yang menyala. Dalam kesempatan ini, ia juga membawakan single bertajuk “Sunny” yang baru dilepas pada 11 Juli 2025 kemarin.

    Six Sound Project, band pop asal Bandung yang terbentuk sejak 2014, turut meramaikan panggung dengan formasi lengkap, yakni Jos (vokal), Hiro (gitar), Rayan (bass), Ezra (keyboard), Fahmi (drum), dan Widi (saxophone).

    Mereka hadir membawakan lagu-lagu milik mereka seperti “Mungkin Cinta Datang Terlambat” dan “Salah Sangka”, yang menggabungkan aransemen elegan dengan lirik yang relatable bagi pendengar urban.

    Mirzatami, proyek kolaboratif antara Charita Utami dan Yudhistira Mirza, menghadirkan pengalaman musikal yang bersifat ritualistik dan kontemplatif. Dengan karya seperti “Sadar Sandar” dan “Usai Usia”, mereka menyuguhkan komposisi yang menggabungkan healing, memori, dan keindahan dalam ketidaksempurnaan.

    Sebagai penutup, Muthia Nadhira tampil dengan karakter jazz-pop yang kuat. Dikenal lewat lagu “Disclosure” dan versi terbaru dari “Simpan Saja”, solois berbakat ini membawa nuansa elegan dan emosional yang menjadi ciri khas album debutnya “Garden of Mimosa”. Dengan latar belakang teater dan musikal, penampilannya selalu sarat ekspresi dan kedalaman.

    Acara Main-Main di Cipete yang digagas oleh Reallist Management ini telah menjadi wadah penting bagi regenerasi musisi lokal. Digelar setiap Senin malam tanpa tiket masuk, program ini terus memperkuat jejaring komunitas musik independen di Jakarta Selatan.

    Volume ke-22 yang masih dihelat di Casatopia Cafe ini, kembali membuktikan bahwa musik bisa menjadi medium yang inklusif, reflektif, dan menyatukan lintas generasi.

    (Red)

  • Ali Mensan Tampil Memukau di Main-Main Cipete Vol. 21, Bawa Nuansa R&B Penuh Emosi

    Ali Mensan Tampil Memukau di Main-Main Cipete Vol. 21, Bawa Nuansa R&B Penuh Emosi

    VISTA NUSANTARA – Gelaran Main-Main di Cipete Volume 21 kembali menghadirkan malam penuh warna di Casatopia Cafe, Cipete, Jakarta Selatan, pada Senin malam, 21 Juli 2025. Acara musik mingguan yang digagas oleh Reallist Management ini dipandu oleh Eno Suratno Wongsodimedjo dan Qenny Alyanno sebagai host.

    Dengan semangat inklusif dan tanpa tiket masuk, acara ini menjadi ruang ekspresi bagi musisi muda dan penonton yang haus akan karya segar.

    Volume ke-21 menghadirkan empat penampil dengan karakter musikal yang berbeda namun saling melengkapi. Kandiya, musisi pop alternatif asal Jakarta, membuka malam dengan lagu-lagu seperti “Run Run Boy” dan “Kiss and Tell” yang mengangkat tema persahabatan dan dinamika emosi.

    Dengan vokal lembut dan aransemen yang matang, Kandiya berhasil menciptakan suasana intim yang menyentuh hati penonton.

    Hadir menjadi penampil berikutnya, Majasty tampil dengan gaya yang lebih eksperimental dan teatrikal. Membawakan materi dari EP bertajuk “Asmaraloka”, penampilan mereka malam itu menunjukkan potensi besar dalam eksplorasi musik yang berani dan penuh kejutan.

    Jabing, penyanyi dan penulis lagu yang dikenal lewat rilisan seperti “Monopoly” dan “I Hope You Know (Memories, Pt. 2)”, tampil dengan gaya pop kontemporer yang penuh nuansa. Lagu-lagunya yang reflektif dan personal membawa penonton menyelami kisah-kisah cinta dan kehilangan dengan sentuhan melodi yang hangat.

    Sebagai penutup, Ali Mensan yang sebelumnya dikenal sebagai aktor dalam film seperti “My Idiot Brother” dan “Kampung Zombie”, hadir dan menjelma menjadi penyanyi R&B yang memikat.

    Lagu “I Can Be Your Man” dan “Fall In Love Again” menjadi highlight penampilannya malam itu, menghadirkan lirik penuh harapan dan aransemen yang soulful. Penonton larut dalam pesona vokal Ali yang kuat dan penuh emosi.

    Main-Main di Cipete bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan gerakan komunitas yang terus tumbuh. Sejak digagas, acara ini telah menjadi panggung penting bagi regenerasi musisi Indonesia. Dengan dukungan dari penonton yang setia dan atmosfer Casatopia yang hangat.

     

    (Red)

  • Prabawa Rilis ‘Ku Cemburu’, Lagu Patah Dengan Aransemen Elegan

    Prabawa Rilis ‘Ku Cemburu’, Lagu Patah Dengan Aransemen Elegan

    VISTA NUSANTARA – Tahun 2025 ini ditandai dengan banyaknya gebrakan baru dari musisi era 2000 awal, mereka kembali me-release lagu baru dengan image yang baru. Tersebutlah nama Umbu Prabawa, kini kembali ke industri musik dengan identitas baru dan lebih personal, Prabawa.

    Nama yang berarti “bercahaya” dalam bahasa Sanskerta ini bukan hanya simbol semangat baru, tetapi juga representasi akar identitas dan penghormatan terhadap sang ayah yang pertama kali menemukan bakat menyanyinya sejak usia sembilan tahun.

    Jumat 18 Juli 2025 menjadi momen kembalinya ini, Prabawa mempersembahkan single terbaru berjudul “Ku Cemburu”, sebuah karya yang menyoroti luka emosional akibat pengkhianatan dalam hubungan.

    Lagu ini lahir dari perenungan mendalam tentang kesetiaan dan kejujuran yang semakin langka di era hubungan modern, bahkan terinspirasi oleh kasus-kasus yang sempat menjadi viral belakangan ini.

    Single “Ku Cemburu” ditulis dan dikomposisi langsung oleh Prabawa, dengan penataan musik oleh Adi Wibowo. Proses kreatifnya melibatkan sejumlah workshop dan revisi untuk menghasilkan nuansa musik yang kuat namun tetap menyentuh.

    Prabawa dan Adi, yang sama-sama perfeksionis, meramu emosi lagu ini hingga mencapai bentuk akhir yang utuh dan autentik.

    Lagu ini juga menghadirkan sentuhan khas dari paduan suara kecil yang beranggotakan sahabat-sahabat penyanyi berbakat, yakni David Manalu, Beyon Destiano, Marisha Halauwet, dan Niken Asterina, yang dikenal lewat kolaborasi mereka di The Musical Troops dan Magnificanto Singers.

    Baris lirik-lirik seperti, “Jujurlah padaku, walaupun kau kata kita tetap satu” atau “Andai rasa itu tak pernah kau sentuh dulu, ku yakin dirimu masih bersamaku”, menjadi inti dari jiwa lagu ini—menyampaikan kepedihan yang jujur namun tetap elegan.

    Prabawa mempersembahkan lagu ini kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya, yang telah menjadi penyemangat utama dalam perjalanan kembalinya ke dunia musik.

    “Saya kembali bukan sekadar melanjutkan, tetapi menyatu kembali dengan tempat asal saya, yaitu musik,” tutur Prabawa dalam keterangan tertulisnya.

    “Saya persembahkan single ini dan karya karya musik saya kepada keluarga tercinta. Merekalah yang selalu percaya akan kemampuan saya dan meyakinkan untuk saya kembali berkarya,” tuturnya.

    Saat ini, single “Ku Cemburu” milik Prabawa sudah tersedia di seluruh platform pemutar musik digital.
    Selamat menikmati lagu “Ku Cemburu”.

    (Red)

  • Main-Main Cipete #20 Hadirkan Kolaborasi Spektakuler: Dari Pop Melankolis Hingga Rock 90-an

    Main-Main Cipete #20 Hadirkan Kolaborasi Spektakuler: Dari Pop Melankolis Hingga Rock 90-an

    VISTA NUSANTARA – Lima musisi bertumbuh Indonesia, sukses menggebrak keriaan musik mingguan Main-Main di Cipete volume ke-20 pada Senin malam, 14 Juli 2025 kemarin. Tri Alxndr, Weekend By Evidence, Randa Oktovandy, Kidunghara dan grup band Wayang, hadir menghibur Casatopia Cafe, tempat acara berlangsung.

    Dipandu Eno Suratno Wongsodimedjo dan Nurgi Ceper, acara mingguan yang diprakarsai oleh Reallist Management ini kembali menjadi ruang kreatif bagi para musisi independen untuk mengekspresikan karya mereka secara langsung kepada publik.

    Solois pendatang baru, Tri Alxndr membuka penampilan dengan gaya pop melankolisnya yang sukses menghadirkan momen reflektif dan menghangatkan hati. Kehadirannya malam itu adalah untuk memperkenalkan single anyar bertajuk “Kamu Lupa”.

    Usai Tri turun panggung, giliran band rock alternatif asal Jakarta, Weekend By Evidence yang mengambil alih lampu sorot. Unit yang digawangi oleh Dean ini, tampil membawakan nomor-nomor dari album “Wanderlust” yang energik dan menggugah, membawa penonton ke era 90-an dengan sentuhan modern.

    Gitaris yang kini berkarier sebagai penyanyi solo, Randa Oktovandy mengisi pentas sebagai penampil berikutnya. Di sela aksi, musikus berambut gondrong ini mengundang rekan kolaborasinya, Frietsa Rianty ke atas panggung.

    Randa Oktovandy dan Frietsa Rianty memperdengarkan single baru berjudul “Labil”, satu tembang romantis yang menggabungkan pop folk dengan lirik yang menggambarkan dinamika hubungan yang kompleks.

    Penyanyi solo Kidunghara yang dikenal dengan gaya retronya yang khas, langsung mengisi panggung dengan nomor-nomor pop kreatifnya. Dalam penampilannya, ia menggandeng Gloria Jessica dan membawakan lagu “Kanvas Abadi”, sebuah persembahan nostalgia yang membangkitkan nuansa musik Indonesia era 1950-an dengan gaya yang puitis dan minimalis.

    Penampilan grup band pop veteran, Wayang menjadi titik klimaks program Main-Main di Cipete volume ke-20. Lagu-lagu nostalgia semisal “Dongeng” dan “Damai” dibawakan dengan pengubahan aransemen yang menawan. Unit yang digawangi oleh Wahyudi Ramdhan (vokal) dan Ahmad Fauzi (bass) ini, kemudian mengundang Lovely Bustamar, penyanyi muda berbakat yang menjadi rekan kolaboratornya ke atas pentas.

    Wayang featuring Lovely Bustamar kemudian membawakan lagu “Cinta Pertama”, tembang baru yang dirilis pada Mei 2025. Kolaborasi ini mempertemukan karakter klasik khas Wayang dengan sentuhan vokal lembut dan emosional dari Lovely Bustamar.

    Aksi mereka disambut antusias oleh penonton, mempertegas daya tarik lintas generasi dalam musik Indonesia.

    Program musik Main-Main di Cipete sendiri merupakan keriaan yang tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan musik, tetapi juga memperkuat jejaring komunitas dan apresiasi terhadap karya orisinal. Digelar tanpa tiket dan terbuka untuk umum, acara ini menegaskan bahwa musik dapat menjadi medium yang inklusif dan menyatukan.

    Dengan antusiasme yang terus tumbuh, publik bisa menantikan gelaran berikutnya yang diyakini akan terus menghadirkan kejutan menarik dari talenta-talenta baru dalam industri musik lokal, lewat media sosial resmi mereka di Instagram, @main.main.di.

     

    (Red)

  • Trio Puisi Orchidaria Curi Perhatian di Main-Main Cipete Lewat Penampilan Puitis dan Kontemplatif

    Trio Puisi Orchidaria Curi Perhatian di Main-Main Cipete Lewat Penampilan Puitis dan Kontemplatif

    VISTA NUSANTARA – Program musik mingguan yang konsisten menjadi ruang ekspresi bagi musisi muda dan independen, Main-Main di Cipete kembali hadir di episode 18, pada Senin malam, 30 Juni 2025. Bertempat di Casatopia Cafe, acara ini dipandu oleh duo host Eno Suratno Wongsodimedjo dan Qenny Alyanno.

    Hadir sebagai penampi perdana, William Sihombing membuka malam dengan performa penuh perasaan. Solois asal Tangerang Selatan ini membawakan lagu-lagu ciptaannya seperti “Putih”, “Buana”, “Aksara”, “Potret”, dan single terbaru berjudul “Samudra”

    William Sihombing dikenal lewat pendekatan lirik personal dan produksi musik yang matang bersama FireFly Records dalam karya-karyanya.

    Penampilan dilanjutkan oleh Orchidaria, trio musikalisasi puisi yang tengah naik daun. Lewat EP mereka “Senarai”, grup ini menyuguhkan lagu-lagu seperti “Sama-sama Melupakan”, “Rumah, Tak Pulang”, dan “Tak Minta Banyak”.

    Setiap lagu yang dihadirkan Orchidaria, dibalut lirik puitis dan aransemen akustik yang intim. Salah satu personel bahkan menyisipkan pembacaan puisi di tengah set, memperkuat kesan kontemplatif yang menjadi ciri khas mereka.

    Meha, penyanyi muda berbakat, tampil memikat dengan membawakan lagu klasik “Kiss Me” dari Sixpence None the Richer. Ia kemudian memperkenalkan karya-karya dari album debutnya “Cinta Tak Pernah Salah”, termasuk “Daku Sekarat”, “Turun Dari Langit”, dan “Ada Rasa”.

    Lagu-lagu yang dibawakan Meha menampilkan warna vokalnya yang lembut namun kuat, serta lirik yang menggugah.

    Sebagai penutup, Daniel Abraham hadir membakar panggung dengan deretan lagu rap miliknya, termasuk “Pesta”, “Bucin”, “Jalan Sore”, dan “Jogetin”.

    Dikenal sebagai pejuang hip-hop muda dengan lirik positif dan beat cepat, Daniel sebelumnya juga tampil di Swag Event edisi ke-108 dan mendapat sambutan hangat dari komunitas musik urban.

    Program musik Main-Main di Cipete sendiri telah menjadi ajang mingguan yang rutin digelar setiap Senin malam di Casatopia Cafe.

    Diinisiasi oleh Reallist Management, acara ini terbuka untuk umum tanpa tiket masuk, dan menjadi wadah penting bagi regenerasi musisi alternatif di Jakarta.

    Dengan atmosfer hangat dan lineup yang selalu segar, acara ini dengan akun Instagram resmi @main.main.di ini, terus membuktikan bahwa musik lokal punya tempat istimewa di hati para penikmatnya.

    (Red)

  • Suasana Hangat dan Intim di Main-Main Cipete #16, dari Alvin Wardiman Hingga El Michael

    Suasana Hangat dan Intim di Main-Main Cipete #16, dari Alvin Wardiman Hingga El Michael

    VISTA NUSANTARA – Program musik independen, Main-Main di Cipete kembali hadir dalam edisi ke-16 pada Senin, 16 Juni 2025 pukul 19.00 WIB di Casatopia Cafe, Cipete, Jakarta Selatan. Dipandu oleh Eno Suratno Wongsodimedjo dan Qenny Alyanno, edisi kali ini menghadirkan deretan musisi berbakat yang siap membawa penonton dalam perjalanan musikal yang penuh emosi dan eksplorasi.

    Acara ini akan dibuka dengan penampilan Alvin Wardiman, yang akan membawakan sejumlah lagu ciptaannya. Penyanyi yang dikenal dengan karya yang menyentuh hati ini, menyanyikan nomor “They Don’t Mean a Thing”, “Grief”, “Love Paradox”, dan “Smile Again” miliknya yang telah dirilis.

    Kemudian, Adnan Nanda memperkenalkan materi dari EP miliknya bertajuk “Beraksi ke Galaksi”, dengan lagu-lagu berjudul “Beraksi ke Galaksi”, “Meregang Remang”, “Masa Bergala”, dan “Taklimat Fana”, serta single terdahulunya bertajuk “Tenang Senang”.

    Syauqi Destanika juga menghipnotis para penonton dengan karya-karyanya, seperti “Merindu Mesra”, serta dua lagu yang belum dirilis, “Algoritma Semesta” dan “Send Me Away”, ditambah lagu “It’s My Shoes”.

    Sebagai penutup, El Michael menghadirkan sajian musik yang memikat dengan lagu-lagu seperti “Always You”, “Comfort of My Home”, serta dua nomor cover spesial, “Slow Dancing In A Burning Room” milik John Mayer dan “Lemonade” milik Jeremy Passion.

    Tak ketinggalan, El Michael juga akan membawakan single terbarunya “Nothing I Can Do”, yang segera dirilis dalam waktu dekat.

    Dengan atmosfer yang hangat dan dekat, Main-Main di Cipete edisi 16 menjanjikan pengalaman musik yang lebih dari sekadar hiburan—ini adalah ruang berbagi karya, ekspresi, dan pertemuan antara musisi dan penikmatnya.

    Main-Main di Cipete yang digelar setiap Senin malam menjanjikan pengalaman musik yang lebih dari sekadar hiburan, yakni sebagai ruang berbagi karya, ekspresi, dan pertemuan antara musisi dan penikmatnya.

    Acara garapan Reallist Management ini telah menjadi wadah bagi berbagai musisi independen untuk tampil, menjemput pendengar baru dan berjejaring.

    (Red)

  • Lagu Tahun 1999 Dihidupkan Ulang Oleh Meha Dalam Single Terbarunya ‘Ada Rasa’

    Lagu Tahun 1999 Dihidupkan Ulang Oleh Meha Dalam Single Terbarunya ‘Ada Rasa’

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi solo, Meha resmi memperkenalkan lagu bernuansa retro berjudul “Ada Rasa”. Karya ini dipersembahkan sebagai single kedua dari EP debut bertajuk “Cinta Tak Pernah Salah” yang telah dirilis sejak Oktober 2024 lalu.

    Single “Ada Rasa” bukan sekadar lagu baru, melainkan sebuah kisah yang telah lama ada. Ditulis sejak tahun 1999 oleh Ninna Kusumadewi, lagu ini kini mendapatkan nafas baru melalui interpretasi Meha yang personal dan menyentuh.

    Produksi lagu ini melibatkan sederet musisi berpengalaman, termasuk Herry Alesis, Dimas Pradipta, Chandra Rian, dan lain lain. Aransemen musik yang lembut menyatu dengan karakter vokal Meha yang jujur dan polos, menciptakan sebuah pengalaman mendengar yang emosional namun tetap ringan dan mudah dicerna.

    Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang perasaan seseorang yang ditinggalkan tanpa penjelasan— ghosting —namun kemudian sang pelaku kembali membawa rasa yang belum sepenuhnya hilang.

    “Aku yakin banyak banget orang yang relate. Kadang kita belum benar-benar move on, lalu tiba-tiba dia muncul lagi, dan semuanya jadi campur aduk,” tutur Meha dalam keterangan tertulisnya.

    Peluncuran single “Ada Rasa” ditandai dengan dirilisnya video lirik lagu tersebut di kanal YouTube Meha (@mehaanr). Ia berharap lagu ini dapat menjadi suara hati bagi mereka yang pernah disakiti, ditinggalkan, tetapi tetap memilih untuk kuat dan melangkah maju.

    Single ini dirilis sebagai bagian dari EP “Cinta Tak Pernah Salah”, yang memuat 6 lagu dan 1 bonus track duet. EP ini diproduseri oleh Harry Goro dari Geronimo Records yang juga menjadi label yang menaungi Meha.

    Meha, yang bernama lengkap Mehalepi NR merupakan penyanyi muda yang telah menunjukkan bakatnya sejak usia 11 tahun, ketika ia merilis single berjudul “Biarin”. Penyanyi muda ini merupakan putri dari Harry Goro, drummer band legendaris Kla Project, yang turut memberikan pengaruh besar dalam perjalanan musiknya.

    Pada tahun 2024, Meha semakin serius menapaki industri musik dengan merilis EP “Cinta Tak Pernah Salah”, yang berisi enam lagu solo dan satu lagu duet. Selain bermusik, ia juga masih menjalani pendidikan sebagai mahasiswi di STARKI (Tarakanita).

    Lewat karya-karyanya, Meha dikenal dengan gaya musik yang mengangkat tema cinta dan persahabatan, yang dekat dengan kehidupan anak muda. Salah satu lagu andalannya, “Daku Sekarat”, dipilih sebagai single utama karena memiliki pesan mendalam dan hook yang kuat.

    Dengan merilis EP “Cinta Tak Pernah Salah”, Meha berharap dapat memberikan warna baru bagi industri musik Indonesia dan diterima oleh para penikmat musik. Ia juga optimis bahwa karyanya bisa menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda, untuk terus berkarya dan mengekspresikan perasaan mereka melalui musik.

     

    (Red)

  • Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    VISTA NUSANTARA – Band asal Jakarta, Mahir & The ALLIGATORS, merilis EP terbaru bertajuk “Aku Pulang” pada Jumat, 28 Maret 2025 secara independen. EP ini terdiri dari tiga lagu utama— “Aku Pulang”, “Kuda Besi”, dan “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” —yang menggabungkan esensi blues dengan elemen rock, soul, dan funk, menghadirkan karya yang berdaya tarik unik dan penuh makna.

    Dipimpin oleh Mahir Mayanto (Mahir Blues), yang selain menjadi gitaris dan vokalis juga seorang advokat, Mahir & The ALLIGATORS telah lama dikenal sebagai band yang konsisten mengeksplorasi genre blues dengan kreativitas tinggi.

    Unit ini terbentuk sejak masa sekolah bersama teman-teman di SMP St. Bellarminus yang awalnya tergabung dalam klub Tae Kwon Do. Nama ALLIGATOR terpilih secara spontan ketika mereka sedang menonton film “Alligator 2”. Semangat spontanitas ini menjadi ciri khas yang terus melekat dalam perjalanan mereka.

    Lagu “Aku Pulang” yang menjadi fokus trek, terinspirasi dari perumpamaan anak yang hilang, mengangkat tema kasih, pengampunan, dan pertobatan. Lagu ini juga dapat dipahami sebagai cerita tentang hubungan rumah tangga, yang menekankan pentingnya perbaikan dan pengampunan demi membangun harapan baru.

    Sementara lagu “Kuda Besi” merupakan remake dari single pertama band ini yang dirilis pada tahun 2012, menghadirkan nuansa Southern Rock yang diperkaya dengan harmonika blues dan sound gitar yang optimal. Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang seorang bikers dari alam baka yang turun ke bumi untuk membasmi ketidakadilan.

    Sedangkan lagu “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” menyuarakan kritik terhadap hoax dan terorisme, mencerminkan komitmen sosial band terhadap isu-isu penting yang relevan, sekaligus melibatkan kolaborasi lintas generasi bersama musisi berbakat seperti Rini Asmara, Edo Widiz, dan personel TNI-POLRI.

    Proses kreatif EP ini melibatkan berbagai studio, seperti M Studio, Mako Brimob Studio, Mekel Music Studio milik Once Mekel, Mamokiak Studio, dan Widiztortion Studio.
    Tim musisi yang terlibat termasuk Yezki Hutagalung (vokal), Saddam Wardany, Gideon Maukary, Steven Pasaribu (bass), Genta Pratama (blues harp), Robert J (keyboard), Rini Asmara, dan Yossie Mirada (drum), serta Denny Tewe (vokal).

    Mahir Blues sendiri mengambil peran sebagai produser, komposer, sekaligus arranger. Mixing dan mastering digarap oleh Angga Blecemot, sementara pengerjaan cover art dan video klip dilakukan oleh Cak Bedur Pandan Nanas dengan dukungan tim videografer berbakat seperti Nur Komarudin dan Airlangga “Powqzy” Virgianto.

    “Apresiasi khusus disampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung proses produksi EP ini, termasuk Iptu Dwi dari Mako Korps Brimob atas dukungan fasilitas studio rekaman, serta Bertha Mayanto yang tampil sebagai model dalam video klip “Aku Pulang”,” ucap Mahir Blues.

    EP “Aku Pulang” telah tersedia di berbagai platform digital, memberikan pendengar kesempatan untuk menikmati karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang kehidupan dan masyarakat.

    Dengan proyek terbaru ini, Mahir & The ALLIGATORS terus membuktikan konsistensi mereka dalam berkarya dan menjelajahi potensi musik dengan penuh dedikasi.

     

    (Red)

  • ‘Simulacra’ EP Terbaru Reiwa, Sajikan Perspektif Tajam Lewat Musik Metal

    ‘Simulacra’ EP Terbaru Reiwa, Sajikan Perspektif Tajam Lewat Musik Metal

    VISTA NUSANTARA – Unit musik modern metalcore asal Karawang, Reiwa, dengan bangga mengumumkan perilisan EP terbaru mereka yang berjudul “Simulacra”, yang sudah meluncur dalam format digital pada 26 Februari 2025 kemarin.

    Lewat keterangan tertulisnya, grup band yang digawangi oleh Dendi Alamsyah (Vocal), Septian Satriani (Guitar), dan Dadang Suhendar (Drum) ini mengatakan bahwa EP “Simulacra” hadir sebagai karya yang mengangkat tema fenomena sosial, menyuguhkan perspektif tajam terhadap realitas yang sering kali terdistorsi oleh ledakan informasi dan hegemoni kekuasaan.

    Dendi Alamsyah, sang vokalis mengatakan bahwa lewat tiga lagu yang masing-masing berjudul “Anosmia Empati”, “Bigot”, dan “Fundamental”, Reiwa menyampaikan kritik yang mendalam terhadap bias kebenaran yang dapat memicu konflik horizontal.

    “Simulacra” bukan hanya sekadar suguhan musikal, tetapi juga penerjemahan ideologis kami terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar,” ujar Dendi.

    Dalam penggarapannya, proses kreatif EP ini melibatkan kolaborasi dengan My September Record dalam urusan produksi, Jefry Johanas untuk departemen artwork, dan Agus Firmansyah di aspek visual.

    *Reiwa sendiri merupakan band yang terbentuk pada akhir tahun 2019 atas inisiasi mantan bassist mereka, Ryan Vidia. Nama “Reiwa” diambil dari istilah di Negeri Matahari Terbit, yang melambangkan era baru yang mengedepankan kebudayaan dan perdamaian

    Pada 2021 lalu, unit ini memulai debut mereka dengan single instrumental berjudul “Hemodialysis”. Setelah formasi awal mengalami perubahan, Reiwa kini terdiri dari tiga personil utama.

    Dalam perjalanannya, Reiwa tercatat telah merilis beberapa single, seperti “Hanana”, “Last Dance”, dan “Ace”, yang mendapatkan sambutan positif di berbagai platform digital.

    Dengan perpaduan vokal yang kuat, riff gitar yang energik, dan ketukan drum yang dinamis, Reiwa konsisten menonjolkan identitas musik mereka yang unik.

    Melalui EP “Simulacra”, Reiwa berharap dapat menginspirasi pendengar untuk lebih kritis dalam melihat realitas di tengah derasnya informasi yang sering kali bias.

    Kelahiran EP ini sekaligus menjadi langkah besar bagi Reiwa untuk memperluas jejak mereka di dunia musik Indonesia.

    Saat ini, tiga materi dalam EP “Simulacra” milik Reiwa sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

    (Red)

?>