Tag: Single

  • Iva Vina, Simfoni Talenta dari Bandung yang Tak Pernah Diam

    Iva Vina, Simfoni Talenta dari Bandung yang Tak Pernah Diam

    VISTA NUSANTARA – Di kota kreatif seperti Bandung, tidak sulit menemukan seniman. Tapi menemukan sosok seperti Iva Vina, itu cerita lain.

    Ia bukan hanya seorang vokalis dengan suara penuh rasa, tapi juga kreator visual, perias, stylist, pendiri rumah produksi, hingga mentor bagi bakat-bakat muda. Dalam satu tubuh, tersimpan banyak talenta yang tak ingin diam.

    Baru-baru ini, Iva kembali jadi pembicaraan ketika tampil sebagai stylist untuk band Phantom dalam sebuah gigs yang digelar di Taman Braga. Dengan penampilan yang matang dan penuh karakter, Iva menghadirkan konsep visual yang kuat, menyatu dengan musik Phantom yang penuh energi nostalgia.

    Yang menarik, salah satu personel Phantom adalah Lani Alfian, gitaris sekaligus penulis lagu kawakan yang telah bekerja sama dengan banyak artis nasional. Lani adalah salah satu orang pertama yang percaya pada kapasitas Iva, tak hanya di atas panggung, tapi juga di balik layar. “Dia punya insting. Punya rasa. Itu nggak bisa diajarin, itu tumbuh,” kata Lani tentang Iva.

    Perjalanan Iva sendiri dimulai sejak kecil—dari panggung lomba menyanyi, modeling, storytelling, hingga teater di Jakarta. Kini, lewat AI Production, Iva membuktikan dirinya sebagai penggerak: menciptakan ruang bagi sineas muda, videografer, MUA, dan talenta baru yang ingin bersinar.

    Di balik semua aktivitasnya, ada satu hal yang tetap jadi pusat semesta Iva: keluarganya. Putranya, Ahda Zunnur, adalah model cilik yang juga aktif di dunia film dan periklanan. Mereka bahkan sempat bermain bersama dalam film layar lebar “Sang Penjaga Hati” garapan sutradara muda Adrian Oktara.

    “Saya ingin anak saya tumbuh dengan melihat bahwa bekerja bisa penuh cinta, bukan hanya kewajiban,” ungkap Iva.

    Melihat sepak terjangnya, sulit untuk menyematkan satu label pada Iva Vina. Ia adalah creator, collaborator, mother, mentor—semuanya bersatu dalam harmoni. Seperti lagu yang tak pernah selesai, perjalanan Iva masih terus berlanjut.

    Dan dari Bandung, gema kreatifnya mulai menyebar.***

  • SND Empire Gaungkan Bahasa Sunda Lewat Lagu “Dikèkèak” Balutan Musik Koplo Modern

    SND Empire Gaungkan Bahasa Sunda Lewat Lagu “Dikèkèak” Balutan Musik Koplo Modern

    VISTA NUSANTARA – Suara Kreativitas dari Sabang sampai Merauke, Di tengah gempuran musik global, hadir sebuah upaya segar dari ranah lokal yang berani menyuarakan identitas budaya Indonesia. Grup musik baru bernama SND Empire hadir mempersembahkan single perdana mereka bertajuk “Dikèkèak”, lagu berbahasa Sunda yang dikemas dalam irama koplo modern dengan nuansa urban yang kekinian.

    SND Empire digagas oleh produser musik Yerry Meiryan alias Yerry T Five, yang melihat pentingnya menghadirkan kembali lagu-lagu berbahasa daerah ke tengah arus musik populer. Ia menggandeng tiga talenta muda — Pepi (Trefiadi Vitrada) dan Bugie (Bagja Muhammad) sebagai vokalis, serta Ale (Angga Lesmana) sebagai DJ dan backing vokal.

    “Dikèkèak”, yang dalam bahasa Indonesia berarti dicemooh, mengangkat cerita cinta yang pahit namun sangat nyata: seorang pria yang merasa sudah dekat dengan seorang wanita, justru harus merelakannya karena wanita tersebut lebih memilih pria lain yang lebih mapan secara ekonomi. Lirik lagu ini ditulis menggunakan bahasa Sunda sehari-hari, membuat pesan yang disampaikan terasa lebih hidup dan relatable.

    “Kami ingin memperlihatkan bahwa bahasa daerah bukan penghalang untuk berkarya, melainkan kekuatan yang membuat musik jadi lebih berwarna,” ujar Yerry.

    SND Empire hadir bukan hanya sebagai proyek musik, melainkan juga sebagai gerakan pelestarian budaya. Dengan memadukan bahasa daerah dan genre musik modern, grup ini mengajak generasi muda untuk bangga menggunakan bahasa ibu mereka tanpa harus meninggalkan gaya hidup kontemporer.

    Dengan tagline “Koplo Beat, Urban Street!”, SND Empire menyatukan akar budaya lokal dan dinamika dunia kreatif modern — sebuah kombinasi yang diharapkan mampu menjangkau pendengar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

    “Dikèkèak” menjadi pembuka dari sejumlah lagu yang akan dirilis SND Empire di tahun ini dan tahun depan, semuanya mengangkat cerita-cerita rakyat biasa, dalam bahasa yang akrab, dan irama yang mudah diterima.

    SND Empire adalah bukti nyata bahwa keberagaman budaya Indonesia bukan hanya bisa dirayakan, tapi juga dijadikan kekuatan untuk berkarya dan bersuara di panggung musik nasional.***

  • Prabawa Rilis ‘Ku Cemburu’, Lagu Patah Dengan Aransemen Elegan

    Prabawa Rilis ‘Ku Cemburu’, Lagu Patah Dengan Aransemen Elegan

    VISTA NUSANTARA – Tahun 2025 ini ditandai dengan banyaknya gebrakan baru dari musisi era 2000 awal, mereka kembali me-release lagu baru dengan image yang baru. Tersebutlah nama Umbu Prabawa, kini kembali ke industri musik dengan identitas baru dan lebih personal, Prabawa.

    Nama yang berarti “bercahaya” dalam bahasa Sanskerta ini bukan hanya simbol semangat baru, tetapi juga representasi akar identitas dan penghormatan terhadap sang ayah yang pertama kali menemukan bakat menyanyinya sejak usia sembilan tahun.

    Jumat 18 Juli 2025 menjadi momen kembalinya ini, Prabawa mempersembahkan single terbaru berjudul “Ku Cemburu”, sebuah karya yang menyoroti luka emosional akibat pengkhianatan dalam hubungan.

    Lagu ini lahir dari perenungan mendalam tentang kesetiaan dan kejujuran yang semakin langka di era hubungan modern, bahkan terinspirasi oleh kasus-kasus yang sempat menjadi viral belakangan ini.

    Single “Ku Cemburu” ditulis dan dikomposisi langsung oleh Prabawa, dengan penataan musik oleh Adi Wibowo. Proses kreatifnya melibatkan sejumlah workshop dan revisi untuk menghasilkan nuansa musik yang kuat namun tetap menyentuh.

    Prabawa dan Adi, yang sama-sama perfeksionis, meramu emosi lagu ini hingga mencapai bentuk akhir yang utuh dan autentik.

    Lagu ini juga menghadirkan sentuhan khas dari paduan suara kecil yang beranggotakan sahabat-sahabat penyanyi berbakat, yakni David Manalu, Beyon Destiano, Marisha Halauwet, dan Niken Asterina, yang dikenal lewat kolaborasi mereka di The Musical Troops dan Magnificanto Singers.

    Baris lirik-lirik seperti, “Jujurlah padaku, walaupun kau kata kita tetap satu” atau “Andai rasa itu tak pernah kau sentuh dulu, ku yakin dirimu masih bersamaku”, menjadi inti dari jiwa lagu ini—menyampaikan kepedihan yang jujur namun tetap elegan.

    Prabawa mempersembahkan lagu ini kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya, yang telah menjadi penyemangat utama dalam perjalanan kembalinya ke dunia musik.

    “Saya kembali bukan sekadar melanjutkan, tetapi menyatu kembali dengan tempat asal saya, yaitu musik,” tutur Prabawa dalam keterangan tertulisnya.

    “Saya persembahkan single ini dan karya karya musik saya kepada keluarga tercinta. Merekalah yang selalu percaya akan kemampuan saya dan meyakinkan untuk saya kembali berkarya,” tuturnya.

    Saat ini, single “Ku Cemburu” milik Prabawa sudah tersedia di seluruh platform pemutar musik digital.
    Selamat menikmati lagu “Ku Cemburu”.

    (Red)

  • Musisi Indonesia Rilis Single Global ‘Move Dat Thing’, Tayang di Spinnin’ Records

    Musisi Indonesia Rilis Single Global ‘Move Dat Thing’, Tayang di Spinnin’ Records

    VISTA NUSANTARA – Tiga talenta Indonesia di kancah musik elektronik global, Adnan Veron, Arsyih Idrak, dan Liquid Silva, kembali mengguncang dunia lewat rilisan single terbaru mereka bertajuk “Move Dat Thing”. Lagu ini bukan hanya sekadar banger lantai dansa, tapi juga sindiran ringan untuk mereka yang hadir ke klub namun enggan menari.

    Dengan energi yang eksplosif, lagu ini diciptakan untuk membangkitkan suasana dan mengajak semua orang untuk melepaskan diri dan bergoyang.

    Terinspirasi dari pengalaman tur keliling kota dan interaksi dengan berbagai kultur klub, ketiganya menyaksikan fenomena yang sama: dance floor yang sunyi karena audiens yang diam membeku. Dari sinilah “Move Dat Thing” lahir menjadi sebuah seruan lantang untuk menggerakkan tubuh, melepaskan ragu, dan merayakan musik sebagai bahasa universal.

    Dibekali hook adiktif dan lirik lugas seperti “Jump up & move dat thing” dan “Let me see you on da floor,” lagu ini menjelma menjadi anthem yang sulit diabaikan.

    “Kami ingin lagu ini mencairkan suasana di setiap pesta, tanpa objektifikasi, agar laki-laki dan perempuan merasa nyaman untuk bersenang-senang bersama,” kata Adnan Veron, Arsyih Idrak, dan Liquid Silva lewat keterangan tertulisnya.

    Lirik lagu juga menyebut berbagai kota di dunia seperti Rio, London, Jakarta, dan Ibiza yang menegaskan pesan inklusivitas global dan perayaan terhadap budaya klub internasional.

    Diluncurkan oleh label ternama Spinnin’ Records yang dikenal sebagai rumah bagi nama-nama besar seperti Martin Garrix dan Don Diablo, rilisan ini memperkuat posisi ketiga musisi Indonesia di panggung dunia.

    Karya ini merupakan rilisan ketiga Adnan Veron dan kedua bagi Liquid Silva bersama Spinnin’. Sebelumnya, mereka mencatat kesuksesan lewat nomor berjudul “BAD BOYS” (bersama Bravy & Mister Aloy), dengan lebih dari 2,2 juta stream di Spotify, hampir 500 ribu penonton di YouTube, serta mewarnai 8.700 lebih konten di TikTok.

    Kemudian ada “LOWKEY” (bersama Erga & Liquid Silva), yang mencetak lebih dari 11 juta stream Spotify, 10 juta views di YouTube, dan viral di TikTok dengan lebih dari 600 ribu video.

    Sementara itu, kolaborator baru, Arsyih Idrak, turut menunjukkan daya ledak yang tidak kalah kuat dengan lagu sebelumnya “Takutu”, yang telah mengantongi lebih dari 9 juta stream.

    Saat ini, single “Move Dat Thing” milik Adnan Veron, Arsyih Idrak, dan Liquid Silva telah tersedia di seluruh platform digital streaming.

    (Red)

  • Album ‘SARIMBAGAN’ Jadi Titik Puncak Ekspresi Jujur Band SAR

    Album ‘SARIMBAGAN’ Jadi Titik Puncak Ekspresi Jujur Band SAR

    VISTA NUSANTARA – Setelah melalui proses panjang dan merilis enam single secara bertahap, band SAR akhirnya resmi merilis album perdana mereka bertajuk “SARIMBAGAN”, sebuah karya penuh makna yang memuat kisah, rasa, dan refleksi mendalam dari perjalanan musikal mereka.

    “SARIMBAGAN” terdiri dari 11 track pilihan yang menyuarakan beragam emosi: dari keluh kesah, kekesalan, hingga harapan. Album ini bukan hanya sebuah rangkaian lagu, tapi juga representasi kejujuran SAR dalam bermusik—sebuah medium untuk merayakan keberanian, kebahagiaan, dan ketulusan dalam menyampaikan pesan.

    “Sebagai musisi, kami merasa belum lengkap jika belum menyusun karya dalam bentuk album. SARIMBAGAN lahir dari proses yang panjang, penuh tantangan, tapi juga sangat memuaskan secara emosional,” ujar perwakilan SAR.

    Album ini merupakan bentuk konsistensi SAR dalam berkarya dan memperluas cakupan musikal mereka. Setelah mendapat sambutan hangat dari berbagai single sebelumnya, SAR ingin membawa para pendengar ke dimensi yang lebih utuh lewat full-length album yang digarap dengan totalitas.

    SAR mengajak para pendengar untuk menikmati “SARIMBAGAN” di berbagai Digital Streaming Platform (DSP) serta channel YouTube resmi mereka, di mana musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang jujur untuk merasakan dan dipahami.

    “Kami percaya bahwa bermusik adalah tentang menyampaikan yang tidak bisa diucapkan. Dan album ini adalah sarana kami untuk berbagi, bukan sekadar bunyi, tetapi juga rasa,” tutupnya.

    (Red)

  • ‘Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih’, Lagu Debut Inocent Yang Langsung Jadi Soundtrack Film

    ‘Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih’, Lagu Debut Inocent Yang Langsung Jadi Soundtrack Film

    VISTA NUSANTARA – Dunia musik Indonesia kedatangan pendatang baru dengan karakter vokal yang kuat dan emosional. Penyanyi wanita Inocent Purwanto resmi merilis single debutnya yang berjudul “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih”, di bawah naungan label Soex Entertainment.

    Lagu ini menjadi lebih istimewa karena juga dijadikan Original Soundtrack (OST) untuk film berjudul sama, sebuah drama romantis psikologis yang mengangkat kisah hubungan rumit, luka batin, dan dilema cinta yang tak berujung.

    Lagu “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih” merupakan balada pop dengan nuansa sendu dan lirik yang jujur, menggambarkan perasaan seseorang yang terjebak dalam ketidakpastian cinta. Vokal emosional Inocent menghadirkan kedalaman tersendiri, membuat lagu ini mudah menyentuh hati pendengar.

    “Lagu ini benar-benar personal buat aku. Prosesnya emosional, karena banyak perempuan—termasuk aku—pernah berada di situasi kayak di lagu ini: mau lanjut sakit, mau berhenti juga tetap sakit,” ungkap Inocent.

    Sebagai bagian dari proyek lintas industri, Soex Entertainment berkolaborasi dengan tim produksi film untuk menghadirkan lagu ini sebagai bagian dari alur cerita. Film “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih” sendiri dibintangi oleh Mikha Tambayong, Ibrahim Risyad, Kevin Ardilova, dan Tissa Biani, serta disutradarai oleh Benni Setiawan.

    Single “Dilanjutkan Salah, Disudahi Perih” milik Inocent Purwanto kini telah tersedia di seluruh platform streaming musik, sementara video liriknya dapat disaksikan di kanal YouTube resmi Soex Entertainment.

    Kehadiran Inocent Purwanto dengan debutnya ini menjadi sorotan baru di dunia musik Indonesia, menampilkan suara yang unik dan lagu yang sarat makna.

    (Red)

  • Lagu Tahun 1999 Dihidupkan Ulang Oleh Meha Dalam Single Terbarunya ‘Ada Rasa’

    Lagu Tahun 1999 Dihidupkan Ulang Oleh Meha Dalam Single Terbarunya ‘Ada Rasa’

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi solo, Meha resmi memperkenalkan lagu bernuansa retro berjudul “Ada Rasa”. Karya ini dipersembahkan sebagai single kedua dari EP debut bertajuk “Cinta Tak Pernah Salah” yang telah dirilis sejak Oktober 2024 lalu.

    Single “Ada Rasa” bukan sekadar lagu baru, melainkan sebuah kisah yang telah lama ada. Ditulis sejak tahun 1999 oleh Ninna Kusumadewi, lagu ini kini mendapatkan nafas baru melalui interpretasi Meha yang personal dan menyentuh.

    Produksi lagu ini melibatkan sederet musisi berpengalaman, termasuk Herry Alesis, Dimas Pradipta, Chandra Rian, dan lain lain. Aransemen musik yang lembut menyatu dengan karakter vokal Meha yang jujur dan polos, menciptakan sebuah pengalaman mendengar yang emosional namun tetap ringan dan mudah dicerna.

    Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang perasaan seseorang yang ditinggalkan tanpa penjelasan— ghosting —namun kemudian sang pelaku kembali membawa rasa yang belum sepenuhnya hilang.

    “Aku yakin banyak banget orang yang relate. Kadang kita belum benar-benar move on, lalu tiba-tiba dia muncul lagi, dan semuanya jadi campur aduk,” tutur Meha dalam keterangan tertulisnya.

    Peluncuran single “Ada Rasa” ditandai dengan dirilisnya video lirik lagu tersebut di kanal YouTube Meha (@mehaanr). Ia berharap lagu ini dapat menjadi suara hati bagi mereka yang pernah disakiti, ditinggalkan, tetapi tetap memilih untuk kuat dan melangkah maju.

    Single ini dirilis sebagai bagian dari EP “Cinta Tak Pernah Salah”, yang memuat 6 lagu dan 1 bonus track duet. EP ini diproduseri oleh Harry Goro dari Geronimo Records yang juga menjadi label yang menaungi Meha.

    Meha, yang bernama lengkap Mehalepi NR merupakan penyanyi muda yang telah menunjukkan bakatnya sejak usia 11 tahun, ketika ia merilis single berjudul “Biarin”. Penyanyi muda ini merupakan putri dari Harry Goro, drummer band legendaris Kla Project, yang turut memberikan pengaruh besar dalam perjalanan musiknya.

    Pada tahun 2024, Meha semakin serius menapaki industri musik dengan merilis EP “Cinta Tak Pernah Salah”, yang berisi enam lagu solo dan satu lagu duet. Selain bermusik, ia juga masih menjalani pendidikan sebagai mahasiswi di STARKI (Tarakanita).

    Lewat karya-karyanya, Meha dikenal dengan gaya musik yang mengangkat tema cinta dan persahabatan, yang dekat dengan kehidupan anak muda. Salah satu lagu andalannya, “Daku Sekarat”, dipilih sebagai single utama karena memiliki pesan mendalam dan hook yang kuat.

    Dengan merilis EP “Cinta Tak Pernah Salah”, Meha berharap dapat memberikan warna baru bagi industri musik Indonesia dan diterima oleh para penikmat musik. Ia juga optimis bahwa karyanya bisa menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda, untuk terus berkarya dan mengekspresikan perasaan mereka melalui musik.

     

    (Red)

  • Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi folk AMIS kembali menghadirkan karya terbaru dengan merilis single “Local Wisdumb”, sebuah lagu yang menyoroti kebodohan yang dibenarkan dan kejanggalan yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sosial.

    Diproduseri oleh Iga Massardi, “Local Wisdumb” menjadi single pembuka dari album penuh AMIS yang dijadwalkan rilis pada September 2025. Dengan pendekatan musikal yang semakin luas dan eksplorasi yang tak terduga, AMIS menjanjikan lebih banyak kejutan dalam rilisan-rilisan mendatang.

    Lagu ini bukan sekadar musik, tetapi potret keras realita sosial yang disampaikan dengan lirik jujur, pahit, namun tetap dikemas dengan gaya khas AMIS—satir, cerdas, dan berani.

    “Lirik ini gua tulis serius dan penuh riset, asik. Untungnya Mas Iga bersedia jadi produser. Musiknya jadi ikutan serius juga. Hasil akhirnya bener-bener di luar ekspektasi gua,” ujar AMIS.

    Dikenal sebagai musisi dengan karakter kuat dalam lirik-liriknya, AMIS kerap mengangkat tema politik, kritik sosial, hingga ketuhanan dalam karyanya. Tak jarang, ia disebut sebagai generasi penerus Iwan Fals, terutama saat tampil live, dengan gaya yang berani dan penuh energi.

    Liriknya yang jujur dan lugas, dipadukan dengan gaya folk-blues yang menjadi ciri khasnya, menjadikan musik AMIS sebagai perwakilan suara mahasiswa yang menyuarakan keresahan generasi muda.

    Pemerhati musik sekaligus mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto menyebut AMIS sebagai entitas baru di kancah folk yang sukses membuat perbedaan menonjol di industri musik kiwari.

    “AMIS merupakan harapan baru folk balladeer lokal yang membuat genre ini menjadi ancaman kembali setelah sekian lama terlena dalam ‘kenyamanan’ industri,” katanya.

    “Ia berani menggugat tema-tema sensitif yang telah mengakar di masyarakat dengan penyampaian sederhana, mudah dipahami sekaligus cerdas menghibur. AMIS adalah bahaya laten yang jujur dan bernas, semoga selamanya bisa begitu, Indonesia membutuhkannya,” tutur Wendi Putranto.

    Sejak awal perjalanan musiknya, AMIS telah merilis berbagai karya, termasuk mini album “Surga di Telapak Kaki Bapa” (2021) dan album penuh “Filosofi Males” (2024).

    Nomor-nomor garapan AMIS semisal, “Selamat Hari Raya Media Sosial”, “Bagaimana Jika Kristen yang Masuk Surga”, “Darurat Judi”, dan “O Kanan O Kanan Kiri Kotak Segitiga Atas”, sukses meraup jumlah putar tinggi di platform pemutar musik daring.

    Kini, single “Local Wisdumb” milik AMIS sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

    (Red)

  • ‘Aurora’ Jadi Langkah Baru Electric Bird, Lebih Liris, Lebih Lokal, Lebih Peduli

    ‘Aurora’ Jadi Langkah Baru Electric Bird, Lebih Liris, Lebih Lokal, Lebih Peduli

    VISTA NUSANTARA – Grup band garage rock asal Surabaya, Electric Bird, kembali hadir dengan single terbaru berjudul “Aurora”, yang akan menjadi bagian dari album kedua mereka, “Odyssey”. Lagu ini menggambarkan keresahan mendalam akan kerusakan lingkungan yang semakin masif, akibat keserakahan dan ketidakpedulian manusia, termasuk para pemimpin yang acuh terhadap dampak kehancuran tersebut.

    Dalam liriknya, single “Aurora” menggunakan bahasa ironi untuk menceritakan keindahan alam yang terus digerus oleh kepentingan tertentu. Menariknya, ini adalah lagu pertama Electric Bird yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

    Dengan langkah ini, unit yang digawangi oleh Vicky (gitar) dan Dafa (gitar) dan Danu (bass/vokal) ini berharap pesan yang diusung dalam lirik dapat tersampaikan lebih dekat ke hati para pendengar.

    Proses kreatif dalam pembuatan “Aurora” sarat akan eksplorasi musikalitas baru. Vicky dan Dafa yang tengah berada dalam fase eksplorasi ambience gitar, menghadirkan pengaruh besar pada pengisian gitar, sound, dan karakter baru dalam lagu ini.

    “Kebiasaan mengeksplorasi sound memberikan identitas segar yang benar-benar terasa di ‘Aurora’,” ungkap Vicky.

    Sementara itu, Danu mengaku menghadapi tantangan baru dalam menulis lirik berbahasa Indonesia. Pasalnya, selama ini Electric Bird selalu menggunakan bahasa Inggris dalam lagu mereka.

    “Proses ini cukup menantang, tetapi memberikan banyak ruang eksplorasi, baik secara lirik maupun musik,” tutur Danu.

    Kehadiran produser Julio Mulya juga memberikan perspektif baru bagi Electric Bird. Julio membawa nuansa akustik, ambience, hingga tambahan synth dan notasi yang menyempurnakan dinamika lagu. Danu bilang, Julio berhasil memberikan sentuhan yang memperkaya isian gitar dan atmosfer keseluruhan lagu.

    Single “Aurora” ditulis oleh Rahmana Wiradanu dan Vicky Aslam, dengan lirik oleh Danu. Lagu ini diproduseri oleh Julio Mulya, sementara proses mixing dan mastering ditangani oleh Prasimansyah. Hasilnya, kolaborasi ini menciptakan sebuah karya penuh energi dengan pesan yang kuat dan menyentuh.

    Dibentuk di Surabaya, Electric Bird dikenal dengan genre garage rock. Band ini memulai kariernya dengan perilisan album debut mereka, “Stings You Hard” yang dilepas pada 2019. Setelah mengalami beberapa pergantian personel, terutama di posisi drum, formasi saat ini terdiri dari Danu, Vicky, dan Dafa, yang tengah fokus mengeksplorasi sound dan ambience baru untuk album kedua mereka, “Odyssey”.

    Wardogs (2018)
    Stings You Hard (Album, 2019)
    Shut It Out (Single, 2021)
    Broken Heart Youth (Single, 2021)
    Sixx (Single, 2022)
    Electrichestra (EP, 2023)
    Sious (Single, 2024)
    Aurora (Single, 2024)

    Saat ini, single “Aurora” milik Electric Bird kini sudah tersedia di semua platform streaming digital.

    (Red/Reallist Management)

  • Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    VISTA NUSANTARA – Band asal Jakarta, Mahir & The ALLIGATORS, merilis EP terbaru bertajuk “Aku Pulang” pada Jumat, 28 Maret 2025 secara independen. EP ini terdiri dari tiga lagu utama— “Aku Pulang”, “Kuda Besi”, dan “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” —yang menggabungkan esensi blues dengan elemen rock, soul, dan funk, menghadirkan karya yang berdaya tarik unik dan penuh makna.

    Dipimpin oleh Mahir Mayanto (Mahir Blues), yang selain menjadi gitaris dan vokalis juga seorang advokat, Mahir & The ALLIGATORS telah lama dikenal sebagai band yang konsisten mengeksplorasi genre blues dengan kreativitas tinggi.

    Unit ini terbentuk sejak masa sekolah bersama teman-teman di SMP St. Bellarminus yang awalnya tergabung dalam klub Tae Kwon Do. Nama ALLIGATOR terpilih secara spontan ketika mereka sedang menonton film “Alligator 2”. Semangat spontanitas ini menjadi ciri khas yang terus melekat dalam perjalanan mereka.

    Lagu “Aku Pulang” yang menjadi fokus trek, terinspirasi dari perumpamaan anak yang hilang, mengangkat tema kasih, pengampunan, dan pertobatan. Lagu ini juga dapat dipahami sebagai cerita tentang hubungan rumah tangga, yang menekankan pentingnya perbaikan dan pengampunan demi membangun harapan baru.

    Sementara lagu “Kuda Besi” merupakan remake dari single pertama band ini yang dirilis pada tahun 2012, menghadirkan nuansa Southern Rock yang diperkaya dengan harmonika blues dan sound gitar yang optimal. Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang seorang bikers dari alam baka yang turun ke bumi untuk membasmi ketidakadilan.

    Sedangkan lagu “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” menyuarakan kritik terhadap hoax dan terorisme, mencerminkan komitmen sosial band terhadap isu-isu penting yang relevan, sekaligus melibatkan kolaborasi lintas generasi bersama musisi berbakat seperti Rini Asmara, Edo Widiz, dan personel TNI-POLRI.

    Proses kreatif EP ini melibatkan berbagai studio, seperti M Studio, Mako Brimob Studio, Mekel Music Studio milik Once Mekel, Mamokiak Studio, dan Widiztortion Studio.
    Tim musisi yang terlibat termasuk Yezki Hutagalung (vokal), Saddam Wardany, Gideon Maukary, Steven Pasaribu (bass), Genta Pratama (blues harp), Robert J (keyboard), Rini Asmara, dan Yossie Mirada (drum), serta Denny Tewe (vokal).

    Mahir Blues sendiri mengambil peran sebagai produser, komposer, sekaligus arranger. Mixing dan mastering digarap oleh Angga Blecemot, sementara pengerjaan cover art dan video klip dilakukan oleh Cak Bedur Pandan Nanas dengan dukungan tim videografer berbakat seperti Nur Komarudin dan Airlangga “Powqzy” Virgianto.

    “Apresiasi khusus disampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung proses produksi EP ini, termasuk Iptu Dwi dari Mako Korps Brimob atas dukungan fasilitas studio rekaman, serta Bertha Mayanto yang tampil sebagai model dalam video klip “Aku Pulang”,” ucap Mahir Blues.

    EP “Aku Pulang” telah tersedia di berbagai platform digital, memberikan pendengar kesempatan untuk menikmati karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang kehidupan dan masyarakat.

    Dengan proyek terbaru ini, Mahir & The ALLIGATORS terus membuktikan konsistensi mereka dalam berkarya dan menjelajahi potensi musik dengan penuh dedikasi.

     

    (Red)