?>

Tag: Musik

  • Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi folk AMIS kembali menghadirkan karya terbaru dengan merilis single “Local Wisdumb”, sebuah lagu yang menyoroti kebodohan yang dibenarkan dan kejanggalan yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sosial.

    Diproduseri oleh Iga Massardi, “Local Wisdumb” menjadi single pembuka dari album penuh AMIS yang dijadwalkan rilis pada September 2025. Dengan pendekatan musikal yang semakin luas dan eksplorasi yang tak terduga, AMIS menjanjikan lebih banyak kejutan dalam rilisan-rilisan mendatang.

    Lagu ini bukan sekadar musik, tetapi potret keras realita sosial yang disampaikan dengan lirik jujur, pahit, namun tetap dikemas dengan gaya khas AMIS—satir, cerdas, dan berani.

    “Lirik ini gua tulis serius dan penuh riset, asik. Untungnya Mas Iga bersedia jadi produser. Musiknya jadi ikutan serius juga. Hasil akhirnya bener-bener di luar ekspektasi gua,” ujar AMIS.

    Dikenal sebagai musisi dengan karakter kuat dalam lirik-liriknya, AMIS kerap mengangkat tema politik, kritik sosial, hingga ketuhanan dalam karyanya. Tak jarang, ia disebut sebagai generasi penerus Iwan Fals, terutama saat tampil live, dengan gaya yang berani dan penuh energi.

    Liriknya yang jujur dan lugas, dipadukan dengan gaya folk-blues yang menjadi ciri khasnya, menjadikan musik AMIS sebagai perwakilan suara mahasiswa yang menyuarakan keresahan generasi muda.

    Pemerhati musik sekaligus mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto menyebut AMIS sebagai entitas baru di kancah folk yang sukses membuat perbedaan menonjol di industri musik kiwari.

    “AMIS merupakan harapan baru folk balladeer lokal yang membuat genre ini menjadi ancaman kembali setelah sekian lama terlena dalam ‘kenyamanan’ industri,” katanya.

    “Ia berani menggugat tema-tema sensitif yang telah mengakar di masyarakat dengan penyampaian sederhana, mudah dipahami sekaligus cerdas menghibur. AMIS adalah bahaya laten yang jujur dan bernas, semoga selamanya bisa begitu, Indonesia membutuhkannya,” tutur Wendi Putranto.

    Sejak awal perjalanan musiknya, AMIS telah merilis berbagai karya, termasuk mini album “Surga di Telapak Kaki Bapa” (2021) dan album penuh “Filosofi Males” (2024).

    Nomor-nomor garapan AMIS semisal, “Selamat Hari Raya Media Sosial”, “Bagaimana Jika Kristen yang Masuk Surga”, “Darurat Judi”, dan “O Kanan O Kanan Kiri Kotak Segitiga Atas”, sukses meraup jumlah putar tinggi di platform pemutar musik daring.

    Kini, single “Local Wisdumb” milik AMIS sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

    (Red)

  • Wen & the Wknders Panaskan Panggung Opus Musicalis: “Senang, Bahagia, dan Bangga!”

    Wen & the Wknders Panaskan Panggung Opus Musicalis: “Senang, Bahagia, dan Bangga!”

    VISTA NUSANTARA – Unit musik indie asal Bandung, Wen & the Wknders, kembali menyapa para penikmat musik lewat penampilan mereka di acara Opus Musicalis Bandung yang digelar oleh komunitas kreatif Titik Koempul (Tikpul), Rabu (16/042025). Acara ini menjadi ajang temu dan apresiasi bagi musisi lokal untuk tampil dan berbagi karya.

    Tak sendiri, Wen & the Wknders tampil satu panggung bersama band Trian, yang juga berasal dari kota yang sama. Suasana hangat dan intim menyelimuti acara yang digelar di Pendopo, tempat yang memiliki nilai historis dan kedekatan dengan skena kreatif Kota Bandung.

    Formasi Wen & the Wknders yang terdiri dari Wenang (vokal), Lupi (gitar), Isyan (bass), dan Demi (gitar) membawakan enam lagu dalam penampilan mereka malam itu, yaitu Jumpa Mentari, Aku Masih di Sini, Tak Mungkin Kembali, Rindu Sesaat, Mencari Penggantimu, dan Too Far Away.

    “Ini sebuah kehormatan dan kebanggaan luar biasa bisa tampil di event berkelas seperti ini. Senang, bahagia, dan bangga,” ungkap Wenang, sang vokalis, usai tampil.

    Lupi, gitaris pertama, menambahkan, “Acaranya bagus, sound-nya juga oke, dan yang paling penting bisa menampung musisi lokal. Semoga ke depannya Tikpul bisa jadi panggung besar.”

    Senada dengan rekan-rekannya, Isyan sang bassis mengaku senang bisa terlibat, “Tampil di sini asik, intinya kami senang sekali bisa diundang.”

    Sementara Demi, gitaris kedua, menyampaikan, “Merasa terhormat bisa ketemu para musisi Bandung, ini kesempatan yang berharga.”

    Wen & the Wknders hingga saat ini telah merilis enam single, dan tengah mempersiapkan debut album penuh yang dijadwalkan rilis pada tahun 2025.

    Penampilan mereka di Opus Musicalis menjadi bukti konsistensi dan semangat mereka dalam meramaikan industri musik tanah air, khususnya dari skena independen Bandung.

     

    (Red)

  • Kirana Setio Buktikan Eksistensi di Musik Lewat Reinterpretasi Lagu Klasik

    Kirana Setio Buktikan Eksistensi di Musik Lewat Reinterpretasi Lagu Klasik

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi solo Kirana Setio dan proyek kolaborasi The GRNM mempersembahkan single “Bagiku Kaulah Segalanya”, sebuah karya ikonis gubahan Anton Issoedibjo yang pernah dipopulerkan oleh Zwesty Wirabuana pada tahun 1983.

    Lagu ini kini dihadirkan kembali dalam balutan musik modern yang tetap mempertahankan esensi nostalgianya, dengan sentuhan segar oleh produser berbakat Harry Goro serta aransemen baru dari Riza Maulana.

    Kirana Setio adalah penyanyi muda yang namanya melejit sejak menjadi Gadis Sampul 2015, sebuah ajang prestisius yang melahirkan banyak talenta besar di industri hiburan Indonesia. Meski awalnya dikenal sebagai model, Kirana selalu memiliki kecintaan mendalam terhadap dunia musik, mengikuti jejak sang ibu yang juga berbakat dalam bernyanyi. Setelah sukses di dunia fashion, ia memutuskan untuk fokus pada karier musiknya, mengawali perjalanan sebagai penyanyi di tahun 2023 dengan debut single.

    Penampilannya mencuri perhatian publik dalam lagu “Dawai” yang menjadi soundtrack dari film “Air Mata Di Ujung Sajadah”. Lagu ini menonjolkan kekuatan vokalnya yang lembut namun penuh emosi.

    Kini, melalui single “Bagiku Kaulah Segalanya”, Kirana kembali membuktikan bahwa dirinya adalah sosok multitalenta yang mampu memberikan warna baru dalam dunia musik Indonesia. Interpretasi mendalam Kirana dalam lagu ini menjadi pembuktian bahwa dia tak hanya sekadar entertainer, melainkan seniman sejati.

    Sebagai proyek unggulan Geronimo Records, The GRNM adalah platform yang mewadahi kolaborasi berbagai talenta solo. Dipimpin oleh Harry Goro, The GRNM menawarkan eksplorasi musik yang inovatif, menghasilkan karya dengan kualitas musikalitas tinggi yang mampu menggabungkan elemen nostalgia dan modernitas.

    Dalam single “Bagiku Kaulah Segalanya”, aransemen Riza Maulana memberikan sentuhan baru yang menghidupkan kembali lagu legendaris ini bagi pendengar lintas generasi.

    Versi baru single “Bagiku Kaulah Segalanya” dari The GRNM dan Kirana Setio dirilis di bawah naungan Geronimo Records, sebuah label rekaman yang lahir pada tahun 2020 di tengah tantangan pandemi, sekaligus wujud dedikasi terhadap musik independen.

    Dimulai dari sekelompok musisi di Yogyakarta yang aktif di berbagai gigs dan band lokal, label ini berkembang menjadi pelopor dalam memproduksi musik berkualitas tinggi. Selain memproduksi single dan album, Geronimo Records juga mengelola seluruh proses kreatif, mulai dari pra-produksi hingga pascaproduksi, untuk proyek musik komersial maupun non-komersial.

    “Sebagai label indie, kami selalu menempatkan seni sebagai inti dari setiap karya. Kami percaya bahwa musik adalah medium untuk menyampaikan emosi dan membangun koneksi dengan pendengar,” tutur Harry Goro.

    Melalui proyek ini, Geronimo Records ingin menghidupkan kembali warisan musik Indonesia dengan pendekatan modern-classic yang unik.

    Single “Bagiku Kaulah Segalanya” bukan sekadar lagu, melainkan gerakan untuk menjaga warisan musik Indonesia tetap relevan bagi generasi baru. Dengan suara lembut namun kuat dari Kirana dan eksplorasi musikal The GRNM, lagu ini menghadirkan harmoni yang memikat dan menggugah emosi.

    Saat ini, single “Bagiku Kaulah Segalanya” milik The GRNM dan Kirana Setio sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital mulai Jumat, 4 April 2025.

     

    (Red)

  • Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    VISTA NUSANTARA – Band asal Jakarta, Mahir & The ALLIGATORS, merilis EP terbaru bertajuk “Aku Pulang” pada Jumat, 28 Maret 2025 secara independen. EP ini terdiri dari tiga lagu utama— “Aku Pulang”, “Kuda Besi”, dan “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” —yang menggabungkan esensi blues dengan elemen rock, soul, dan funk, menghadirkan karya yang berdaya tarik unik dan penuh makna.

    Dipimpin oleh Mahir Mayanto (Mahir Blues), yang selain menjadi gitaris dan vokalis juga seorang advokat, Mahir & The ALLIGATORS telah lama dikenal sebagai band yang konsisten mengeksplorasi genre blues dengan kreativitas tinggi.

    Unit ini terbentuk sejak masa sekolah bersama teman-teman di SMP St. Bellarminus yang awalnya tergabung dalam klub Tae Kwon Do. Nama ALLIGATOR terpilih secara spontan ketika mereka sedang menonton film “Alligator 2”. Semangat spontanitas ini menjadi ciri khas yang terus melekat dalam perjalanan mereka.

    Lagu “Aku Pulang” yang menjadi fokus trek, terinspirasi dari perumpamaan anak yang hilang, mengangkat tema kasih, pengampunan, dan pertobatan. Lagu ini juga dapat dipahami sebagai cerita tentang hubungan rumah tangga, yang menekankan pentingnya perbaikan dan pengampunan demi membangun harapan baru.

    Sementara lagu “Kuda Besi” merupakan remake dari single pertama band ini yang dirilis pada tahun 2012, menghadirkan nuansa Southern Rock yang diperkaya dengan harmonika blues dan sound gitar yang optimal. Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang seorang bikers dari alam baka yang turun ke bumi untuk membasmi ketidakadilan.

    Sedangkan lagu “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” menyuarakan kritik terhadap hoax dan terorisme, mencerminkan komitmen sosial band terhadap isu-isu penting yang relevan, sekaligus melibatkan kolaborasi lintas generasi bersama musisi berbakat seperti Rini Asmara, Edo Widiz, dan personel TNI-POLRI.

    Proses kreatif EP ini melibatkan berbagai studio, seperti M Studio, Mako Brimob Studio, Mekel Music Studio milik Once Mekel, Mamokiak Studio, dan Widiztortion Studio.
    Tim musisi yang terlibat termasuk Yezki Hutagalung (vokal), Saddam Wardany, Gideon Maukary, Steven Pasaribu (bass), Genta Pratama (blues harp), Robert J (keyboard), Rini Asmara, dan Yossie Mirada (drum), serta Denny Tewe (vokal).

    Mahir Blues sendiri mengambil peran sebagai produser, komposer, sekaligus arranger. Mixing dan mastering digarap oleh Angga Blecemot, sementara pengerjaan cover art dan video klip dilakukan oleh Cak Bedur Pandan Nanas dengan dukungan tim videografer berbakat seperti Nur Komarudin dan Airlangga “Powqzy” Virgianto.

    “Apresiasi khusus disampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung proses produksi EP ini, termasuk Iptu Dwi dari Mako Korps Brimob atas dukungan fasilitas studio rekaman, serta Bertha Mayanto yang tampil sebagai model dalam video klip “Aku Pulang”,” ucap Mahir Blues.

    EP “Aku Pulang” telah tersedia di berbagai platform digital, memberikan pendengar kesempatan untuk menikmati karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang kehidupan dan masyarakat.

    Dengan proyek terbaru ini, Mahir & The ALLIGATORS terus membuktikan konsistensi mereka dalam berkarya dan menjelajahi potensi musik dengan penuh dedikasi.

     

    (Red)

  • Setelah Lama Vakum, Sepatu Udara Rilis ‘Gawat’ Lagu Patah Hati Yang Bikin Menari

    Setelah Lama Vakum, Sepatu Udara Rilis ‘Gawat’ Lagu Patah Hati Yang Bikin Menari

    VISTA NUSANTARA – Setelah lima tahun vakum dari dunia musik, band alternatif rock Sepatu Udara resmi kembali dengan single terbaru mereka bertajuk “Gawat”. Lagu ini membawa nuansa musik up beat yang ceria, namun dengan lirik mendalam yang menceritakan rasa sakit hati akibat pengkhianatan. Kontradiksi antara melodi ceria dan tema yang pedih ini diharapkan menjadi daya tarik utama bagi pendengar.

    Dalam liriknya, single “Gawat” menggambarkan kisah seseorang yang dikhianati oleh kekasihnya, meskipun telah memberikan yang terbaik. Rasa sakit, kecewa, dan amarah bercampur aduk, namun karakter dalam lagu ini memilih untuk bangkit dan merayakan kebebasannya daripada meratapi kesedihan.

    Personel Sepatu Udara, yakni Ale Akbar (vokal), Fabyn Nanda (drum), Pay (gitar 1), Mbud (gitar 2), dan Ibenk (bass) mengatakan bahwa dengan pesan mendalam bahwa rasa sakit bisa menjadi katalisator untuk menjadi lebih kuat, lagu ini mengajak pendengar untuk mengubah emosi negatif menjadi energi positif.

    Musik bertempo up beat dalam “Gawat” mencerminkan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Irama yang ceria mengajak pendengar untuk menari dan melupakan rasa sakit sejenak, sementara lirik yang pedih menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit.

    “Kami berharap lagu ‘Gawat’ bisa menjadi teman bagi mereka yang sedang patah hati. Semoga lagu ini memberikan semangat dan inspirasi untuk bangkit dan menemukan kebahagiaan,” ujar personel grup band Sepatu Udara .

    Single ini ditulis oleh Alif Jibu , Ale Akbar , dan Fabyn Nanda , dengan Alif Jibu juga bertindak sebagai Music Producer. Proses produksi melibatkan Ale Akbar sebagai Executive Producer, Arif Hadianto untuk mix & mastering, serta tim seperti Oboy Gusnandar (A&R), Bambang Uta (manager), dan Reyhan Luqmanul (creative designer).

    Lagu “Gawat” milik Sepatu Udara resmi dirilis pada Sabtu, 15 Maret 2025 di bawah label Mars Music Nation dan akan dapat dinikmati di berbagai platform musik digital.

     

    (Red)

  • The People of the Sun Perkenalkan ‘Two Tickets’, Gerbang Menuju Album Perdana

    The People of the Sun Perkenalkan ‘Two Tickets’, Gerbang Menuju Album Perdana

    VISTA NUSANTARA – Grup band rock asal Surabaya, The People of the Sun (POTS) dengan bangga mengumumkan perilisan single terbaru mereka berjudul “Two Tickets”, yang menjadi bagian dari album perdana yang akan datang.

    Sebagai single ketiga POTS, “Two Tickets” merupakan lanjutan dari maxi-single yang dirilis akhir 2024. Lagu ini membawa harapan besar untuk menjadi gerbang menuju album perdana mereka.

    Di tengah pengerjaan maxi-single “Akal/Bagaimana Jika Gelap”, Naykilla diminta untuk mengisi vokal di salah satu trek. Saat itu pula, ide kolaborasi vokal di single “Two Tickets” muncul dan berhasil dieksekusi, membuat lagu ini menjadi kolaborasi pertama POTS dengan musisi lain.

    Dengan kolaborasi dan eksplorasi musik yang matang, unit yang digawangi oleh Adria Riswinanda (gitar, produser), Johannes Febrianto Elyas (gitar, vokal), Rahmana Wiradanu (bass, vokal), dan Bimo Putranto Widiyahutomo (drum, songwriter) ini berharap “Two Tickets” dapat menyentuh hati pendengar dan menjadi karya yang relevan bagi siapa pun yang mendengarkannya.

    Bimo Putranto Widiyahutomo, drummer POTS, menjelaskan bahwa lagu ini adalah eksplorasi dari berbagai elemen yang telah lama ada.

    “Liriknya sudah ditulis sejak 2016 tetapi tidak menemukan tempat yang tepat. Baru di 2022, ketika POTS terbentuk dan kami aktif workshop, ide untuk memasukkan lirik dan vokal muncul. Namun, proses pengerjaannya baru rampung pada 2024 setelah pergantian personil yang membawa semangat baru,” ucap Bimo.

    Dalam liriknya, lagu ini menghadirkan perspektif seorang pria yang mengungkapkan perasaannya terhadap pasangan, menggambarkan momen-momen kebersamaan yang begitu berarti hingga ia yakin untuk menawarkan “dua tiket hingga akhir dunia”—sebuah kiasan indah untuk mengajak ke jenjang hubungan yang lebih serius.

    Proses kreatif dalam penggarapan “Two Tickets” melibatkan seluruh personil POTS, dari para pemain tambahan hingga manajer band yang berkontribusi dalam aransemen. Lagu ini sepenuhnya dikerjakan secara in-house di 912studio, milik gitaris mereka, dengan dukungan Naykilla, yang turut mengisi vokal. Mixing dan mastering dilakukan oleh Avedis Mutter, menghasilkan kualitas audio yang memuaskan.

    Single “Two Tickets” adalah karya dengan nuansa soft, mengurangi elemen elektronik dan lebih fokus pada pendekatan organik. Lagu ini mencerminkan proses kreatif yang jujur, tanpa banyak intervensi distorsi, dengan aransemen vokal yang memberikan kesan emosional mendalam.

     

    (Red)

  • ‘Pekik Hening di Lantang Angan’, Album Penuh Rangkai Yang Kontemplatif dan Penuh Makna

    ‘Pekik Hening di Lantang Angan’, Album Penuh Rangkai Yang Kontemplatif dan Penuh Makna

    VISTA NUSANTARA – Sambutah Pekik Hening di Lantang Angan. Hadir menyusul tiga single yang telah ditetaskan sejak 2023, yaitu “Seperti Rindu”, “Mesra Tanpa Kata”, dan “Puan, Kau Beri Nyawa”, album penuh Rangkai rilis menjelang Ramadan 1446H, tepatnya 28 Februari 2025.

    Sebagai penyambutan bulan penuh renungan, introspeksi dan pengendalian diri, Pekik Hening di Lantang Angan merupakan gabungan hal tersebut. Judul album ini adalah resonansi atas mendiang Ade Firza Paloh, selaku produser album, setelah mengupas-menguras isi kepala dan sukma tiga personel Rangkai yang berkarib sejak Agustus 2022.

    Sejak itulah Ade Firza Paloh intens bersama Rangkai melalui diskusi-diskusi yang kian meluas, meninggi sekaligus mendalam. Dalam permenungannya, ia rangkum 11 nomor track album dengan kalimat “Kalian itu bak kumparan, seperti tak bergerak padahal laju rotasi tinggi. Cocoknya Pekik Hening di Lantang Angan” ujar Bang Ade, panggilan akrab semasa hayatnya.

    Bersama dengan Setengah Lima Records, Rangkai melanjutkan proyek album penuh ini walau tanpa bimbingan produser yang mereka junjung. Hidup harus terus berjalan, pikir mereka. 11 lagu yang mereka tuangkan dalam album ini adalah saripati perjalanan ke dalam diri yang pasti dialami setiap individu yang berpikir.

    “Ini proses produksi yang ternyata menguras banyak hal, dari tenaga sampai waktu tidur. Tapi dari proses yang lumayan panjang ini meyakinkan gue bahwa rezeki itu bisa datang dari mana aja dan gak harus berupa duit. Bahwa bisa kolaborasi sama musisi-musisi yang biasanya kita cuma bisa nonton mereka, itu hal yang wah banget buat gue pribadi.” tambah Mirza Elba Febrian, gitaris Rangkai.

    Bisa dibilang Pekik Hening di Lantang Angan kontemplatif, perlu kesadaran spiritual atau bahkan religius untuk menyesapkannya secara nikmat. Bukan lantas terbatasi akan nasehat apalagi syariat, album ini adalah biskuit pendamping kopi pahit yang bernama jalan hidup. Atau justru sebaliknya, inilah kopi pahit pendamping biskuit manis bernama kesenangan hidup. Menerima hidup apa adanya. Serba berkecukupan.

    Layaknya kebahagiaan, ketenangan jiwa pun harus diraih dan diupayakan dari dalam diri. Salah satunya lewat penerimaan jalan hidup. Maka, diputuskanlah pada bulan Ramadan 2025 Pekik Hening di Lantang Angan ditayangkan secara luas di semua gerai musik digital untuk seksama diperdengarkan. Satu nomor andalan yang ditawarkan saat peluncurannya yaitu “Selam Hati Sulam Diri”.

    Sebuah lagu hasil kolaborasi dengan Endah Widiastuti, vokalis Endah N Rhesa. Menurutnya “Ketika Rangkai mengajak saya untuk mengisi vokal untuk lagu Selam Hati Sulam Diri, tentu saja saya langsung menyanggupi karena sudah mendengar materi albumnya yang konseptual. Proses rekamannya juga menyenangkan karena saya diberi kebebasan untuk improvisasi mencari nada dalam merespon melodi vokal Bimo. Lagu ini memiliki kesan tersendiri di hati saya karena lirik dan bunyi Rangkai yang menarik.”

    Nomor-nomor track dalam album ini disusun berdasarkan 6 masa penciptaan di Al-Quran, yaitu 1. ledakan pertama dan munculnya cahaya (“Api”, “Kejora Cinta”), 2. Jagad mengembang (“Ruang”, “Seperti Rindu”, “Mesra Tanpa Kata”), 3. Unsur alam mulai menemukan bentuknya (“Isyarat Hawa”, “Puan Kau Beri Nyawa”), 4. Benturan alam raya (“Pertengkaran”, “Tabir”), 5. Alam mulai stabil (“Selam Hati Sulam Diri”), dan 6. Alam regenerasi (“Seberang Fana”).

    Formasi trio Rangkai, yaitu Mirza (Gitar Klasik) dan Rai (Kontrabas) dan Bimo (Vokal, Gender/gamelan Jawa). Selain Ade Firza Paloh sebagai produser album dan Setengah Lima Records sebagai produser eksekutif, Rangkai dibantu oleh banyak pihak dalam pengerjaannya. Dihiasi oleh artwork besutan Khalid Albakaziy, mixing-mastering oleh Ruang Waktu Music, Lokale Satin Studio, serta Earspace Studio.

     

    (Red)

  • Dari Jalanan ke Panggung Besar, Marvel Habibi Kini Jadi Vokalis NaFF

    Dari Jalanan ke Panggung Besar, Marvel Habibi Kini Jadi Vokalis NaFF

    VISTA NUSANTARA – Nama Marvel Habibi, atau biasa dipanggil El, kini menjadi perbincangan hangat setelah resmi bergabung sebagai vokalis baru NaFF. Debutnya langsung ditandai dengan single terbaru NaFF berjudul “Hipnotis”, yang diproduksi di bawah label independen SU.RE (Sumber Rejeki).

    El bukanlah wajah baru di dunia musik. Sebelum bergabung dengan NaFF, ia telah berkarier selama 10 tahun sebagai musisi reguler di berbagai kafe, bar, hingga perjalanan long trip.

    Bahkan, kisah awalnya cukup unik—berawal dari mengamen di jalanan, hingga suatu hari seseorang di warung pecel lele memberinya kartu nama untuk tampil di acara pernikahan. Dari sana, jalannya sebagai musisi profesional pun dimulai.

    Perjalanan El menuju posisi vokalis NaFF juga terjadi secara tidak terduga. Awalnya, temannya direkomendasikan untuk tampil bersama NaFF, namun tanpa disadari, kesempatan itu membuka jalan baginya untuk menjadi vokalis baru NaFF. “Gua nyaman dan akhirnya terpilih jadi vokalis NaFF,” ungkapnya.

    “Sebetulnya kita sudah merasa nyaman dengan Ell, sudah beberapa kali manggung bareng alhasil kita percaya dengan Ell,” ujar Odeu.

    “Dengan adanya Ell semoga dia bisa menambah warna baru khususnya untuk di musik NaFF, mungkin untuk single-single selanjutnya Ell bisa lebih explore lagi dan karakter vokalnya bisa lebih keluar lagi,” ucap Hilal.

    Meski kini menjadi bagian dari band legendaris yang telah melahirkan banyak hits, El tetap rendah hati. Ia tidak merasa star syndrome, melainkan hanya memiliki rasa bangga dan tak menyangka bisa menjadi bagian dari perjalanan panjang NaFF.

    Sebagai vokalis baru, El tetap menghormati para vokalis pendahulu NaFF yang telah membentuk identitas band ini. Namun, ia juga ingin membawa nuansa segar tanpa menghilangkan ciri khas NaFF yang sudah dicintai para penggemar. “Semoga dengan adanya gua, ada warna baru tanpa harus menghilangkan warna NaFF yang lama, dan semoga perbedaan ini bisa diterima,” harapnya.

    Sosok El yang rendah hati dan dekat dengan penggemar juga menjadi daya tarik tersendiri. Ia dikenal aktif membalas DM Instagram dari para penggemarnya, sebuah kebiasaan yang telah ia lakukan sejak dulu.

    Selain itu, El juga mengagumi musisi lain, termasuk Enda ‘Ungu’, yang ia anggap sebagai mentor sekaligus sosok kakak yang selalu merangkul.

    Dengan masuknya Marvel Habibi sebagai vokalis baru, NaFF siap membuka babak baru dalam perjalanan musiknya, dengan tetap menjaga esensi yang telah melekat selama lebih dari dua dekade. Single “Hipnotis” akan menjadi langkah awal yang membuktikan bahwa NaFF tetap relevan di industri musik Tanah Air.

     

    (Red)

  • Wen & the Wknders Buktikan Eksistensi Musik Rock Dengan Single ‘Rindu Sesaat’ Yang Makin Populer

    Wen & the Wknders Buktikan Eksistensi Musik Rock Dengan Single ‘Rindu Sesaat’ Yang Makin Populer

    VISTA NUSANTARA – “Musik rock ternyata belum mati, dan terbukti masih banyak penggemarnya,” ujar Wen, vocalis Wen & the Wknders. Ucapannya di buktikan dengan membanjirnya jumlah penonton video musik single kelima mereka yang bergenre rock bertajuk “Rindu Sesaat” di awal perilisannya tanggal 11 Januari kemarin.

    “Dua hari pertama di Youtube langsung tembus 5000 viewers, dan jumlah pendengar di platform musik digital juga naik cukup signifikan. Luar biasa, Alhamdulillah, terima kasih atas dukungannya,” Isyan sang bassis tak mampu membendung kebahagiaannya.

    “Tadinya jujur kami sempat khawatir karena musik single kelima ini jauh lebih kencang dan lebih keras dari lagu-lagu kami sebelumnya. Tapi kami sih pede aja. Lagipula ini juga membuktikan bahwa kami juga bisa membuat lagu bergenre rock murni, dan tidak melulu membuat lagu bertempo sedang atau lambat,” tambah Demi (gitar).

    Sementara itu gitaris lainnya, Lupi, berujar bahwa pemilihan sound yang tepat membuat single ini jadi jauh lebih istimewa. “Semua sound dari instrumen di lagu ini enak di dengarnya. Pas banget semuanya.”

    Keberhasilan ini tentunya didukung pula oleh struktur lagunya sendiri yang cukup unik. Tidak seperti lagu-lagu pada umumnya, “Rindu Sesaat” tidak memiliki bagan reffrain yang biasanya terdiri dari 4 bagian, namun hanya berisi satu kalimat saja.

    “Struktur yang berbeda, lirik yang intriguing, serta tentu saja gebukan drum dan bunyi gitar distorsi yang khas musik rock, membuat lagu ini standout dari pasar musik yang di dominasi lagu-lagu mellow manja saat ini,” pungkas Wen.

     

    (Red)

  • Cara Main-Main di Cipete Bantu Musisi Baru Jangkau Pendengar Lebih Luas

    Cara Main-Main di Cipete Bantu Musisi Baru Jangkau Pendengar Lebih Luas

    VISTA NUSANTARA – Wartawan musik sekaligus pegiat keriaan, Eno Suratno Wongsodimedjo atau yang akrab disapa Enodimedjo mendorong musisi pendatang baru untuk aktif mempromosikan karya-karyanya lewat program musik mingguan Main-Main di Cipete.

    Lewat keterangan tertulisnya, Eno mengatakan bahwa program Main-Main di Cipete digagas sebagai etalase bagi para musisi muda untuk menjajakan karya-karyanya. Panggungan, kata dia, merupakan salah satu elemen penting bagi promosi sebuah karya musik.

    “Bagi musisi pendatang baru, kesempatan manggung atau tampil di sebuah event menjadi hal sulit untuk mereka dapatkan. Padahal selain bisa menjemput pendengar baru, keriaan atau acara musik bisa menjadi ajang bagi mereka menambah jam terbang manggung, sekaligus menjadi simpul kreatif antar musisi untuk berjejaring satu sama lain,” ucap Enodimedjo.

    Digelar rutin setiap Senin malam di Casatopia Cafe, Jakarta Selatan, Main-Main di Cipete hadir di bawah payung Reallist Management, sebuah entitas kolektif yang didirikan oleh Eno. Hingga saat ini, 19 musisi dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia sudah tampil di program ini.

    Di antaranya ada Mahardias (Bekasi), Tape Argument (Pamulang), Fabian Putra (Depok), Moccatune (Surabaya), Davi Siumbing (Jakarta), Afternourway (Ciputat), Verryans (Samarinda), hingga Mr. Zaqilah (Kolaka) dan lain-lain.

    Lewat program Main-Main di Cipete, Eno seolah ingin membuktikan konsistensinya membangun ekosistem musik yang sehat. Salah satunya adalah sebagai ruang bertumbuh bagi mereka yang masih merintis jalan, sehingga regenerasi bisa berjalan dengan baik.

    “Beberapa waktu lalu, penikmat musik akrab dengan istilah ‘festival musik dengan line up yang itu-itu saja’. Keresahan yang seperti itu, seharusnya tidak perlu ada jika musisi-musisi baru diberi ruang untuk bertumbuh,” katanya.

    Eno bilang, acara yang ia inisiasi dihelat gratis tanpa tiket untuk memberi ruang yang lebih luas bagi para pembuat karya yang ingin menemukan pendengar baru.
    Konsep cuma-cuma juga membuka kesempatan bagi siapa pun untuk datang dan menemukan karya dari musisi-musisi baru Indonesia.

    “Acara ini amat sangat terbuka bagi siapa pun, baik pekarya musik maupun penikmat musik. Silakan datang, berkenalan, berjejaring, untuk kemudian bersama-sama membentuk ekosistem musik yang sehat dan saling dukung,” tutur Enodimedjo.

    “Informasi mengenai acara ini, tentang cara bisa ikutan tampil hingga jadwal penampil setiap minggunya, bisa diakses melalui akun Instagram @main.main.di,” ujar dia.

     

    (Red)

?>