?>

Kategori: Vinus Hiburan

  • “Pergilah”: Saat Juke Band Mengubah Lelah Menjadi Kejujuran Musik

    “Pergilah”: Saat Juke Band Mengubah Lelah Menjadi Kejujuran Musik

    Vista Nusantara – Di tengah riuh rilisan baru, Juke Band memilih berjalan pelan namun pasti. Band pop rock alternatif yang lahir Januari 2026 ini kembali menandai langkahnya lewat single kedua berjudul Pergilah, dirilis pada 1 Maret 2026—sebuah karya yang lahir dari kelelahan, keberanian, dan keputusan untuk jujur pada diri sendiri.

    Beranggotakan Jue Achmad (vokal), Wahyu (bass), Patar (drum), Yani (gitar), Rijal (gitar), dan Adipura (keyboard), Juke Band memaknai musik sebagai manuver hidup. Nama “Juke” sendiri menjadi simbol pergerakan: dari mimpi kecil yang terus didorong hingga menemukan bentuknya. Setelah melewati proses panjang di single pertama, mereka kini tampil lebih tenang dan matang.

    “Pergilah” tidak mencoba memikat dengan letupan emosi berlebihan. Lagu ini justru berdiri di atas kesederhanaan aransemen dan ketegasan pesan. Ceritanya dekat: hubungan yang bertahan terlalu lama meski kenyamanan telah hilang. Ketika kesalahan selalu ditimpakan dan ruang bahagia menyempit, pergi menjadi pilihan paling sehat. Lagu ini menempatkan keberanian sebagai inti, bukan penyesalan.

    Secara musikal, Juke Band sengaja menanggalkan melodi dominan dan memilih nuansa yang lebih santai serta modern. Pendekatan ini memberi ruang bagi pendengar untuk mencerna lirik tanpa distraksi. Proses rekaman dilakukan di Studio Tom Tam dengan Jue Achmad sebagai produser sekaligus penulis lagu, serta Tegi Mercuri sebagai komposer. Meski sempat terhenti karena kondisi darurat keluarga, proses tersebut justru memperkuat ikatan emosional di balik lagu.

    Kini “Pergilah” telah tersedia di berbagai platform digital dan dilengkapi video klip sebagai visual pendukung. Juke Band menargetkan pendengar muda hingga masyarakat luas—mereka yang pernah berada di persimpangan antara bertahan atau melepaskan. Lebih dari sekadar single, “Pergilah” menjadi pembuka dari proyek besar yang tengah mereka siapkan, sekaligus penanda bahwa perjalanan Juke Band baru saja dimulai.

  • Chrisalia Rilis Single “Akhir Cerita”: Penutup Manis dari Sebuah Perjalanan Emosional

    Chrisalia Rilis Single “Akhir Cerita”: Penutup Manis dari Sebuah Perjalanan Emosional

    Lagu baru ini jadi refleksi tentang keberanian untuk melepaskan dan mengikhlaskan

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi muda berbakat Chrisalia, yang akrab disapa Cici Fei atau dikenal lewat kanal Cici Suka Nyanyi, kembali menyapa para pendengarnya lewat karya terbaru berjudul “Akhir Cerita.” Setelah sukses dengan dua single sebelumnya, “Hari Bersamamu” dan “Rindu,” kini Chrisalia menghadirkan sesuatu yang lebih dalam dan menyentuh.

    Lagu Tentang Keputusan untuk Mengakhiri dengan Damai

    Lewat “Akhir Cerita,” Chrisalia menggambarkan fase ketika seseorang akhirnya memilih untuk berhenti memaksakan perasaan yang tak lagi sejalan. Bukan karena menyerah, tetapi karena sudah saatnya berdamai dengan kenyataan. “Kadang mengakhiri justru bentuk cinta yang paling tulus,” ujar Chrisalia tentang makna di balik lagunya.

    Lagu ini diproduseri oleh Racka Fandiana dan Beraldy Dean, menghadirkan genre cinematic pop ballad dengan aransemen orkestra dan percussion megah yang menambah kesan dramatis. Hasilnya, lagu ini terdengar seperti soundtrack film yang penuh makna — menggugah hati sekaligus menenangkan.

    Proses Produksi Singkat dengan Sentuhan Personal

    Menariknya, proses pengerjaan “Akhir Cerita” terbilang cepat. Dari workshop, rekaman, hingga sesi foto dan pembuatan video musik, semua berjalan efisien tanpa mengurangi kedalaman pesan yang ingin disampaikan. Chrisalia mengaku banyak menyalurkan emosi pribadinya dalam lagu ini, sehingga terasa jujur dan dekat dengan realitas kehidupan banyak orang.

    Pesan yang Menyentuh: Tidak Semua Akhir Itu Sedih

    Lewat lagu ini, Chrisalia berharap para pendengarnya dapat belajar menerima akhir dengan hati yang lapang. “Tidak semua akhir itu menyedihkan. Kadang, itu cara semesta memberi ruang untuk cerita baru,” tuturnya.

    Single “Akhir Cerita” sudah tersedia di berbagai platform digital sejak 24 Oktober 2025, sementara video musiknya akan tayang perdana pada 31 Oktober 2025 di kanal YouTube Ruang Dimensi Records.

    Dengan “Akhir Cerita,” Chrisalia menunjukkan kematangan musikal dan emosionalnya sebagai penyanyi muda yang tak hanya bernyanyi, tapi juga bercerita — dengan cara yang tulus dan penuh rasa.***

  • Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    Lagu Baru AMIS ‘Local Wisdumb’, Folk-Satir Berkelas Yang Menggugat Norma Sosial

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi folk AMIS kembali menghadirkan karya terbaru dengan merilis single “Local Wisdumb”, sebuah lagu yang menyoroti kebodohan yang dibenarkan dan kejanggalan yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sosial.

    Diproduseri oleh Iga Massardi, “Local Wisdumb” menjadi single pembuka dari album penuh AMIS yang dijadwalkan rilis pada September 2025. Dengan pendekatan musikal yang semakin luas dan eksplorasi yang tak terduga, AMIS menjanjikan lebih banyak kejutan dalam rilisan-rilisan mendatang.

    Lagu ini bukan sekadar musik, tetapi potret keras realita sosial yang disampaikan dengan lirik jujur, pahit, namun tetap dikemas dengan gaya khas AMIS—satir, cerdas, dan berani.

    “Lirik ini gua tulis serius dan penuh riset, asik. Untungnya Mas Iga bersedia jadi produser. Musiknya jadi ikutan serius juga. Hasil akhirnya bener-bener di luar ekspektasi gua,” ujar AMIS.

    Dikenal sebagai musisi dengan karakter kuat dalam lirik-liriknya, AMIS kerap mengangkat tema politik, kritik sosial, hingga ketuhanan dalam karyanya. Tak jarang, ia disebut sebagai generasi penerus Iwan Fals, terutama saat tampil live, dengan gaya yang berani dan penuh energi.

    Liriknya yang jujur dan lugas, dipadukan dengan gaya folk-blues yang menjadi ciri khasnya, menjadikan musik AMIS sebagai perwakilan suara mahasiswa yang menyuarakan keresahan generasi muda.

    Pemerhati musik sekaligus mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto menyebut AMIS sebagai entitas baru di kancah folk yang sukses membuat perbedaan menonjol di industri musik kiwari.

    “AMIS merupakan harapan baru folk balladeer lokal yang membuat genre ini menjadi ancaman kembali setelah sekian lama terlena dalam ‘kenyamanan’ industri,” katanya.

    “Ia berani menggugat tema-tema sensitif yang telah mengakar di masyarakat dengan penyampaian sederhana, mudah dipahami sekaligus cerdas menghibur. AMIS adalah bahaya laten yang jujur dan bernas, semoga selamanya bisa begitu, Indonesia membutuhkannya,” tutur Wendi Putranto.

    Sejak awal perjalanan musiknya, AMIS telah merilis berbagai karya, termasuk mini album “Surga di Telapak Kaki Bapa” (2021) dan album penuh “Filosofi Males” (2024).

    Nomor-nomor garapan AMIS semisal, “Selamat Hari Raya Media Sosial”, “Bagaimana Jika Kristen yang Masuk Surga”, “Darurat Judi”, dan “O Kanan O Kanan Kiri Kotak Segitiga Atas”, sukses meraup jumlah putar tinggi di platform pemutar musik daring.

    Kini, single “Local Wisdumb” milik AMIS sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

    (Red)

  • Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    Blues Bertemu Kritik Sosial, Mahir & The ALLIGATORS Hadir Dengan EP ‘Aku Pulang’

    VISTA NUSANTARA – Band asal Jakarta, Mahir & The ALLIGATORS, merilis EP terbaru bertajuk “Aku Pulang” pada Jumat, 28 Maret 2025 secara independen. EP ini terdiri dari tiga lagu utama— “Aku Pulang”, “Kuda Besi”, dan “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” —yang menggabungkan esensi blues dengan elemen rock, soul, dan funk, menghadirkan karya yang berdaya tarik unik dan penuh makna.

    Dipimpin oleh Mahir Mayanto (Mahir Blues), yang selain menjadi gitaris dan vokalis juga seorang advokat, Mahir & The ALLIGATORS telah lama dikenal sebagai band yang konsisten mengeksplorasi genre blues dengan kreativitas tinggi.

    Unit ini terbentuk sejak masa sekolah bersama teman-teman di SMP St. Bellarminus yang awalnya tergabung dalam klub Tae Kwon Do. Nama ALLIGATOR terpilih secara spontan ketika mereka sedang menonton film “Alligator 2”. Semangat spontanitas ini menjadi ciri khas yang terus melekat dalam perjalanan mereka.

    Lagu “Aku Pulang” yang menjadi fokus trek, terinspirasi dari perumpamaan anak yang hilang, mengangkat tema kasih, pengampunan, dan pertobatan. Lagu ini juga dapat dipahami sebagai cerita tentang hubungan rumah tangga, yang menekankan pentingnya perbaikan dan pengampunan demi membangun harapan baru.

    Sementara lagu “Kuda Besi” merupakan remake dari single pertama band ini yang dirilis pada tahun 2012, menghadirkan nuansa Southern Rock yang diperkaya dengan harmonika blues dan sound gitar yang optimal. Dalam liriknya, lagu ini berkisah tentang seorang bikers dari alam baka yang turun ke bumi untuk membasmi ketidakadilan.

    Sedangkan lagu “Basi (Anti Hoax dan Terorisme)” menyuarakan kritik terhadap hoax dan terorisme, mencerminkan komitmen sosial band terhadap isu-isu penting yang relevan, sekaligus melibatkan kolaborasi lintas generasi bersama musisi berbakat seperti Rini Asmara, Edo Widiz, dan personel TNI-POLRI.

    Proses kreatif EP ini melibatkan berbagai studio, seperti M Studio, Mako Brimob Studio, Mekel Music Studio milik Once Mekel, Mamokiak Studio, dan Widiztortion Studio.
    Tim musisi yang terlibat termasuk Yezki Hutagalung (vokal), Saddam Wardany, Gideon Maukary, Steven Pasaribu (bass), Genta Pratama (blues harp), Robert J (keyboard), Rini Asmara, dan Yossie Mirada (drum), serta Denny Tewe (vokal).

    Mahir Blues sendiri mengambil peran sebagai produser, komposer, sekaligus arranger. Mixing dan mastering digarap oleh Angga Blecemot, sementara pengerjaan cover art dan video klip dilakukan oleh Cak Bedur Pandan Nanas dengan dukungan tim videografer berbakat seperti Nur Komarudin dan Airlangga “Powqzy” Virgianto.

    “Apresiasi khusus disampaikan kepada pihak-pihak yang mendukung proses produksi EP ini, termasuk Iptu Dwi dari Mako Korps Brimob atas dukungan fasilitas studio rekaman, serta Bertha Mayanto yang tampil sebagai model dalam video klip “Aku Pulang”,” ucap Mahir Blues.

    EP “Aku Pulang” telah tersedia di berbagai platform digital, memberikan pendengar kesempatan untuk menikmati karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang kehidupan dan masyarakat.

    Dengan proyek terbaru ini, Mahir & The ALLIGATORS terus membuktikan konsistensi mereka dalam berkarya dan menjelajahi potensi musik dengan penuh dedikasi.

     

    (Red)

  • Tak Mungkin Kembali, Single Baru Wen & the Wknders Pecahkan Rekor

    Tak Mungkin Kembali, Single Baru Wen & the Wknders Pecahkan Rekor

    VISTA NUSANTARA — Single keempat band pop rock asal Bandung Wen & the Wknders yang berjudul “Tak Mungkin Kembali,” berhasil menembus 4000 penonton dalam lima hari penayangannya di kanal Youtube. Ini merupakan jumlah penonton terbanyak dan tercepat sejauh ini di sepanjang perjalanan karier mereka.


    “Terakhir, untuk bisa mendekati angka 3 ribu, kita butuh waktu hampir 3 bulan. Sekarang belum satu minggu udah lebih dari itu. Alhamdulillah, bahagia. Ini sebuah rekor. Terima kasih buat yang nonton dan suka,” tutur Isyan sang bassis yang diamini pula oleh Wen, vokalis Wen & the Wknders.

    Personil lainnya, Demi, mengakui kehadiran Lupi sebagai gitaris kedua, berpengaruh besar saat proses pembuatan lagu dan pembagian tugas. “Saya bisa lebih fokus ke gitar akustik, sementara Lupi main gitar lead elektrik,” ungkapnya. “Sepertinya kami menemukan komposisi ideal sekarang.”

    Single “Tak Mungkin Kembali” mendapatkan sambutan yang cukup baik bukan hanya berkat liriknya yang mudah di ingat, namun juga karena paduan harmonis antara dua gitar yang berbeda karakter. “Saya sih optimis makin lama jumlah penontonnya akan terus bertambah,” ujar Isyan.***
  • “Tiada Lagi” THBND, Penggabungan Lirik Puitis dan Gitar Dinamis

    VISTA NUSANTARA – Grup band indie, THBND resmi merilis single terbaru yang diberi judul “Tiada Lagi” dalam format digital. Karya ini, menjanjikan perpaduan unik antara antara lirik puitis, permainan gitar dinamis, dan vokal yang penuh kekuatan.

    Lewat keterangan tertulisnya, unit yang kini digawangi Budi (vokal/gitar), Sonny (gitar), Duff (gitar), dan Alif (drum) ini mengatakan bahwa sejak dibentuk pada 2011 silam, THBND telah teguh dalam pencariannya untuk menciptakan musik yang mengena secara emosional sambil mendorong batas-batas pop dan rock melodramatik.

    Kehadiran single “Tiada Lagi”, kata mereka, menandai babak baru bagi THBND sekaligus melanjutkan komitmennya untuk menghasilkan musik dengan kedalaman emosional dan karakter suara yang khas.

    Grup band ini dikenal dengan karya yang memadukan melodi kaya nan dramatis dengan energi mentah. Hasilnya, menciptakan suara yang introspektif dan memikat.

    Dalam liriknya, lagu ini mengeksplorasi tema-tema cinta, kehilangan, dan penemuan diri, yang dirangkai dengan diksi dan kata yang kaya dan penuh makna, ditulis oleh penulis lagu utama yang visioner dari band ini.

    “Dengan lagu “Tiada Lagi”, kami menciptakan sesuatu yang sangat pribadi,” kata Budi, vokalis sekaligus penulis lirik single ini.

    “Lagu ini adalah refleksi dari perjalanan kami sendiri, kontradiksi emosi, dan momen-momen tenang dari introspeksi yang sering kali terabaikan. Kami ingin para pendengar merasakan intensitas musik ini dan menemukan makna mereka sendiri dalam liriknya,” tuturnya.

    Gaya musik THBND, kata Budi, menonjol dengan keseimbangan yang memikat antara sensasi melodik pop yang kaya dan energi mentah rock yang tak kenal ampun. Suara khas band ini dibangun dengan kekuatan vokal dinamis, alunan gitar yang menghantui, dan cerita puitis.

    Sebagai pencipta independen, THBND bangga akan keaslian mereka dan keyakinan idealis bahwa musik mereka dapat menemukan tempat di kancah musik modern, meskipun memiliki kompleksitas.

    Single “Tiada Lagi” milik THBND akan bisa didengarkan di seluruh platform pemutar musik digital mulai Jumat, 13 Desember 2024.

    Tak hanya dirilis dalam format audio, lagu ini rencananya juga akan hadir dalam bentuk video musik yang akan melengkapi tema-tema emosional dari lagu dengan visual yang memukau.

    (Red)

  • “Elegi” Perjalanan Cepat, Makna Mendalam dari Kingkong Milkshake

    “Elegi” Perjalanan Cepat, Makna Mendalam dari Kingkong Milkshake

    VISTA NUSANTARA — Band pop-punk asal Malang, Kingkong Milkshake, kembali hadir dengan single terbaru mereka berjudul “Elegi”. Mengangkat tema tentang trauma dan pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), lagu ini menjadi ruang refleksi bagi pendengar yang pernah mengalami atau memahami situasi serupa. Meskipun cerita yang disampaikan sangat personal, Elegi dikemas secara umum agar dapat dirasakan dan dipahami oleh banyak orang, terlepas dari latar belakang atau pengalaman pribadi mereka. 


    Melalui lirik yang ditulis oleh Saddad, band ini berharap trauma-trauma manusia dapat diabadikan dalam karya seni tidak hanya untuk apresiasi belaka namun juga untuk mendorong kesadaran, sekaligus memberikan harapan akan pemulihan.

    “Sebenarnya ⁠lagu ini aku angkat dari kisah nyata tapi bukan dari sumber teman dekat. Aku mencoba menginterpretasi peristiwa tersebut di kepalaku, lalu menuangkannya menjadi lirik. Harapanku, lagu ini dapat menjadi suara bagi mereka yang mungkin sulit menyampaikan apa yang mereka rasakan. Jadi, sekedar aku ambil dari sudut pandang pengamat yang melihat peristiwa ini dari jauh. Kemudian, aku interpretasi sendiri peristiwa ini di kepalaku, kemudian aku tulis menjadi lagu “Elegi”, tutur Saddad.

    Proses pembuatan “Elegi” berlangsung dalam waktu yang relatif cepat. Setelah dua kali pertemuan awal di bulan September 2024, band ini langsung masuk ke tahap workshop dan rehearsal hingga bulan Oktober. Rekaman dilakukan di studio Vamos Records di Malang, dengan bantuan produser sekaligus sound engineer, Yasa Wijaya. 

    “Workshop lagu “Elegi” kami mulai dari awal bulan September 2024. Setelah dua kali meeting, kami langsung melanjutkan dengan membuat demonya dan rehearsal hingga bulan Oktober 2024 awal. Setelah rehearsal, di bulan Oktober pula kami rekaman lagu tersebut,” jelas Saddad.

    “Dalam produksi “Elegi”, prosesnya tidak banyak kendala, meski kami sempat mengalami kesulitan dalam menemukan notasi. Biasanya metode yang kami pakai adalah dengan modal lagu yang sudah direncanakan di dalam kepala, baru kami mulai workshop. Akan tetapi, untuk single ini kami coba mulai semuanya dari nol tanpa membawa ide sebelumnya. Itu pengalaman baru bagi kami,” tambah Saddad⁠.

    Elegi menjadi single penutup bagi Kingkong Milkshake di tahun 2024, yang rencananya akan melanjutkan proyek besar mereka dengan merilis album panjang kedua pada tahun 2025. Meskipun proses penggarapan yang cepat, Kingkong Milkshake tetap berusaha menghadirkan sebuah karya yang dapat menyuarakan keresahan-keresahan kehidupan modern secara komprehensif. 

    “Melalui ‘Elegi’, kami ingin memberikan pesan bahwa kita semua bisa bangkit dari luka, apapun bentuknya,” tutup Saddad.***
  • Program Main-Main Cipete Jadi Etalase Karya Musik, Albert Tanabe Tampil Memukau

    Program Main-Main Cipete Jadi Etalase Karya Musik, Albert Tanabe Tampil Memukau

    VISTA NUSANTARA — Penyanyi sekaligus penulis lagu, Albert Tanabe atau yang akrab disapa Abe, memperkenalkan single terbarunya yang berjudul “Meski Tak Lagi Kau Dengar” saat tampil di volume 3 program musik Main-Main di Cipete, pada Senin, 9 Desember 2024 kemarin.


    Single tersebut, kata Abe merupakan karya yang digarap bersama Denny Chasmala sebagai produser musik, dan Erros Candra, gitaris Sheila on 7 sebagai kolaborator yang mengisi instrumen gitar di sepanjang lagu.

    “Tiga laguku sebelumnya itu semuanya digarap oleh mas Denny Chasmala sebagai musik produser,” kata Albert Tanabe, di sela penampilannya di program Main-Main di Cipete.

    “Suatu ketika, aku jalan bareng mas DenChas dan mas Erros. Di mobil, kita lagi bahas soal karya-karyaku, aku beranikan diri buat minta mas Erros untuk membantu mengisi instrumen di lagu terbaruku,” tuturnya.

    Singkat cerita, kata Abe, ajakannya itu mendapat sambutan positif dari Erros Candra yang tak lain adalah idolanya. Tak butuh waktu lama, ketiga musisi itu kemudian masuk ke studio rekaman di Yogyakarta dan menggarap single “Meski Tak Lagi Kau Dengar”.

    Tidak hanya hadir untuk memperkenalkan tembang baru “Meski Tak Lagi Kau Dengar”, Albert Tanabe juga membawakan sejumlah single lain dalam penampilannya. Di antaranya lagu “Meledak-ledak” rilisan tahun 2022 dan single yang belum dirilis berjudul “Walau Tuk Sementara”.

    Albert Tanabe dikenal publik sebagai musikus yang juga pengusaha di industri kuliner. Ia tercatat telah melepas sejumlah karya musik berupa single, yakni “Tomorrow I’ll Be Gone”, “Not the Time to Say Goodbye”, “Meledak-ledak”, dan “Meski Tak Lagi Kau Dengar”.

    Di luar musik, Abe memiliki kesibukan sebagai konsultan di industri kuliner, sekaligus pemilik jaringan kedai kopi Elmakko, dan restoran anak muda di Bekasi, 3Cooks.

    Selain Albert Tanabe, volume 3 program musik Main-Main di Cipete yang digelar di Casatopia Cafe, Jakarta Selatan ini, turut diramaikan penampilan Cema, Verrryans, dan grup duo pop asal Tangerang Selatan, After Nourway.

    Program Main-Main di Cipete sendiri merupakan keriaan mingguan yang digagas Reallist Management. Diselenggarakan setiap Senin malam, acara ini dihelat sebagai etalase promosi entitas musik yang tengah bertumbuh baik dari kalangan major label maupun independen.

    CEO Reallist Management sekaligus penggagas program Main-Main, Eno Suratno Wongsodimedjo menjelaskan bahwa acara yang ia inisiasi dihelat gratis tanpa tiket untuk memberi ruang yang lebih luas bagi para pembuat karya yang ingin menemukan pendengar baru.

    Konsep cuma-cuma juga membuka kesempatan bagi siapa pun untuk datang dan menemukan karya dari musisi-musisi baru Indonesia.

    “Acara ini amat sangat terbuka bagi siapa pun, baik pekarya musik maupun penikmat musik. Silakan datang, berkenalan, berjejaring, untuk kemudian bersama-sama membentuk ekosistem musik yang sehat dan saling dukung,” kata Eno Dimedjo.***
  • ‘The Society’, Holy City Rollers Satukan Retro Rock dan Kritik Sosial Tajam

    ‘The Society’, Holy City Rollers Satukan Retro Rock dan Kritik Sosial Tajam

    VISTA NUSANTARAHoly City Rollers adalah grup musik Rock’n’Roll asal Jakarta yang terbentuk pada 2004. Terinspirasi dari musik era 60-an hingga 2000-an, mereka mengusung sound retro rock n’ roll dengan sentuhan Pop tahun 60-an. Lirik-lirik mereka sering mengangkat tema sosial dan menghadirkan pesan yang kuat tentang masalah perkotaan dan kebebasan diri.
    Debut album mereka, First Chapter of Allordia (2008), sukses mencuri perhatian dengan lagu-lagu seperti “Hook Up” dan “Kingdom of Allordia”. Setelah itu, Holy City Rollers terus mengukir prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta tampil di berbagai festival musik.
    Setelah beberapa tahun hiatus, mereka kembali dengan energi baru. Single pertama di era baru, Chivalry (2019), membuka jalan menuju EP Evolve (2021), yang memuat lagu-lagu seperti “Blister” dan “Sunset”. Kini, di 2024, Holy City Rollers luncurkan single terbaru “The Society”, yang menjadi bagian dari album yang akan datang.
    Lagu “The Society” mengungkapkan keresahan terhadap ketidakadilan sosial, di mana banyak orang menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi. Fenomena ini mencuat dalam berbagai aspek, mulai dari politik hingga media sosial, di mana norma dan kebenaran sering diputarbalikkan demi kepentingan pribadi. Lagu ini mengajak kita untuk menyadari kepalsuan tersebut dan berjuang untuk perubahan yang lebih adil.
    “They said we should compromise, embolden words within the line. It’s a blurry looking glass, but do you see what I can see?,” ujar Mesa Sinaga.***
  • Debut Musik Khansa Nadhira, “JAGA DIA” Dedikasi Manis untuk Sosok Ibu

    VISTA NUSANTARA — Khansa Nadhira mengeluarkan single lagu berjudul JAGA DIA ( Lagu Untuk Ibu ) dan di dedikasikan untuk semua para ibu yang ada di dunia.


    Khansa Nadira adalah anak gadis cantik dan pintar kelahiran bandung 14 juli 2010, Khansa Nadira adalah siswi SMP kelas 8 sekolah Ibnu Sina Bandung.

    Berawal dari hobi nya menari & bergelut di dunia seni, akhir nya Khansa Nadira memulai untuk mengembangkan bakat nya di dunia tarik suara, di bantu oleh seorang pencipta lagu & Arranger sekaligus Produser asal kota Bandung bernama LANI ALFIAN, beliau memiliki ratusan karya yang karya nya sudah lumayan banyak dan di pakai oleh beberapa artis lokal, besar dan beberapa influencer di indonesia.

    Atas dasar dari terlihat nya bakat terpendam Khansa Nadhira, akhir nya Lani Alfian di bantu oleh team Nutama Media Kreasi membuat kan single lagu untuk Khansa Nadhira yang berjudul JAGA DIA ( Lagu Untuk Ibu ) yang akan release pada hari minggu tanggal 1 Desember 2024.

    Lagu ini di buat oleh Lani Alfian dan di nyanyikan langsung oleh Khansa Nadhira bertujuan untuk memotivasi setiap orang untuk tidak melupakan jasa dan selalu sayang kepada seorang ibu yang sudah membesarkan kita dari mulai bayi hingga dewasa.

    Harapan terbesar nya dari lagu Khansa Nadhira yang berjudul Jaga Dia ( Lagu Untuk Ibu ) ini adalah bisa menjadi hal positif buat semua orang, bisa menjadi lagu yang menginspirasi, menjadi lagu yang panjang umur nya dan bisa menjadi lagu untuk sebuah moment apapun yang berkaitan dengan tema seorang Ibu.

    Akhir dari harapan Khansa Nadhira pribadi, semoga dengan release nya single pertama ini bisa memberikan yang terbaik untuk semua para pencinta musik Indonesia, dan lagu nya banyak di sukai serta di dengarkan oleh teman teman para pecinta musik anak ataupun dewasa.




    ***
?>