Kategori: Musik

  • Single “Yang Masih Bisa Berdoa”, Karya Terbaru Lindee Cremona Sarat Pesan Doa dan Harapan

    Single “Yang Masih Bisa Berdoa”, Karya Terbaru Lindee Cremona Sarat Pesan Doa dan Harapan

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi muda berbakat Lindee Cremona kembali menegaskan eksistensinya di industri musik dengan merilis single terbaru berjudul “Yang Masih Bisa Berdoa”. Lagu ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan musikalnya, menghadirkan kualitas produksi yang lebih matang sekaligus memperlihatkan perkembangan vokal yang semakin kuat. Tidak hanya tampil sebagai karya solo, single ini juga melibatkan empat musisi berpengalaman yang memberi sentuhan khas sehingga menghasilkan warna musik yang lebih manis dan emosional.

    Lagu “Yang Masih Bisa Berdoa” diciptakan oleh Albert Kenchen, yang menulis lirik dengan pendekatan emosional dan penuh makna. Tema yang diangkat adalah doa dan harapan tulus, merepresentasikan kepolosan sekaligus ketulusan hati seorang anak dalam menyampaikan isi perasaan kepada Tuhan dan orang-orang tercinta. Albert menekankan bahwa doa adalah bentuk komunikasi paling jujur yang bisa dilakukan siapa pun, bahkan dalam kesederhanaan.

    Secara musikal, lagu ini diperkuat oleh permainan gitar klasik Jubing Kristianto. Sentuhan hangat dan elegan dari gitar klasiknya menghadirkan nuansa intim yang memperkaya aransemen. Permainan gitar tersebut membuat lagu terdengar lembut namun tetap berkarakter, memberikan kedalaman rasa yang menyentuh hati pendengar.

    Di balik produksi, Nissan Fortz dipercaya sebagai produser sekaligus arranger. Musisi dan komposer yang pernah masuk nominasi AMI Award ini menghadirkan aransemen yang terarah dan emosional, namun tetap sesuai dengan karakter vokal Lindee sebagai penyanyi muda. Sentuhan produksinya membuat “Yang Masih Bisa Berdoa” terdengar lembut tanpa kehilangan kesederhanaan yang menyentuh.

    Pengarahan vokal ditangani oleh Pace Kribo, yang dikenal melalui karya-karya bernuansa timur. Dengan pendekatan vokal yang detail dan penuh rasa, Pace berhasil membentuk karakter suara Lindee menjadi lebih manis, lembut, dan menyentuh. Vokal Lindee kini terdengar lebih matang, namun tetap mempertahankan kepolosan khas anak-anak.

    Proses engineering dan recording ditangani oleh Wendy Bagindas, memastikan kualitas audio yang bersih dan profesional. Kolaborasi lintas generasi dan pengalaman ini menjadikan “Yang Masih Bisa Berdoa” sebagai karya yang tidak hanya kuat dari sisi pesan, tetapi juga dari sisi musikalitas dan teknis produksi.

    Melalui single ini, Lindee Cremona menegaskan komitmennya untuk terus berkembang dan menghadirkan lagu dengan pesan positif. “Yang Masih Bisa Berdoa” diharapkan dapat menjadi teman bagi siapa pun yang ingin menyampaikan doa, harapan, dan cinta melalui musik yang hangat dan tulus.

     

    (Red)

  • Bangkit dengan Karya Personal, Nisa Farella Rilis “Legowo”

    Bangkit dengan Karya Personal, Nisa Farella Rilis “Legowo”

    VISTA NUSANTARA – Nisa Farella kembali menyapa industri musik Indonesia melalui single terbarunya berjudul “Legowo.” Lagu ini menjadi penanda comeback sang penyanyi dangdut dengan pendekatan yang lebih matang, tenang, dan penuh penghayatan.

    Nama Nisa Farella dikenal publik sejak mengikuti ajang pencarian bakat Dangdut Academy, yang menjadi pintu awal perjalanannya di industri musik. Seiring waktu, Nisa Farella terus mengembangkan karirnya, termasuk sempat berkolaborasi dan bekerja sama dalam proyek musik bersama Ahmad Dhani melalui manajemen dan karya cipta yang memperkaya pengalamannya sebagai seorang performer.

    Kini, melalui Legowo lagu ciptaan Yanda Bebeh, Nisa Farella kembali dengan warna yang lebih personal. Lagu ini mengangkat tema keikhlasan, penantian, dan keberanian untuk menerima kenyataan dalam sebuah hubungan. Disampaikan dengan lirik berbahasa Jawa yang sederhana namun dalam, Legowo terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.

    Pembawaan Nisa Farella dalam lagu ini menjadi sorotan utama. Ia menyanyikan Legowo dengan vokal yang lembut, stabil, dan penuh rasa, tanpa dramatisasi berlebih. Setiap bait terasa jujur dan mengalir, menggambarkan proses berdamai dengan perasaan, tentang rindu yang masih ada, namun harus diakhiri dengan lapang dada.

    Alih-alih menonjolkan kesedihan, Legowo justru menawarkan ketenangan. Lagu ini tidak berbicara tentang menyalahkan, melainkan tentang menerima, menguatkan diri, dan belajar merelakan dengan hati yang lebih luas. Pesan inilah yang menjadikan Legowo terasa relevan dan memberikan ruang refleksi bagi pendengarnya.

    Melalui comeback ini, Nisa Farella berharap Legowo dapat menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berada di fase mengikhlaskan dan melangkah maju. Ia ingin menghadirkan karya yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan dan sebagai pengingat bahwa setiap proses memiliki makna.

    Nisa Farella mengatakan, lagu Legowo menjadi ruang baginya untuk kembali bercerita dengan jujur melalui musik. “Legowo adalah tentang belajar menerima dan berdamai dengan perasaan. Lagu ini tidak bicara soal menyalahkan, tapi tentang keikhlasan dan keberanian untuk melangkah ke depan. Aku berharap lagu ini bisa menemani siapa pun yang sedang berada di fase merelakan, dan semoga kehadiranku kembali lewat lagu ini bisa membawa energi yang hangat dan positif bagi para pendengar.”

    Single “Legowo” telah dirilis dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Nisa Farella dan juga dapat didengarkan di Digital Streaming Platform. Ke depan, Nisa Farella berkomitmen untuk terus berkarya dengan menghadirkan lagu-lagu yang jujur dan dekat dengan realitas kehidupan pendengarnya.

     

    (Red)

  • Sambut Ramadan 2026, Risty Ang Gandeng Giant Jay Rilis Single Religi “Hidup Tanpa Kata”

    Sambut Ramadan 2026, Risty Ang Gandeng Giant Jay Rilis Single Religi “Hidup Tanpa Kata”

    VISTA NUSANTARA – Menyambut bulan suci Ramadan 2026, grup duo besutan Risty Tagor dan Ang Sharly, Risty Ang kembali menghadirkan karya terbaru melalui single kolaborasi berjudul “Hidup Tanpa Kata” bersama penyanyi solo, Giant Jay.

    Berbicara dalam keterangan tertulisnya, Risty Ang mengatakan bahwa lagu ini merupakan pengingat bagi mereka pribadi dan kepada pendengar tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Sang Kuasa, dalam senyap.

    “Lagu ini saya persembahkan sebagai pengingat bahwa tidak semua rasa harus diungkapkan dengan kata-kata,” ucap Risty Tagor dan Ang Sharly.

    “Kadang diam dan pasrah justru menjadi cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” tutur mereka.

    Sebagai grup duo musik Islami, Risty Ang konsisten menghadirkan karya bernuansa dakwah dan religius. Setelah debut lewat “Sabar Tak Ada Batasnya” dan merilis “Baiti Jannati” pada Ramadan 2025, mereka kini berkolaborasi dengan Giant Jay, solois pendatang baru yang dikenal lewat lagu “Raksasa” dan “Serba Salah”.

    Dalam liriknya, single “Hidup Tanpa Kata” bercerita tentang seseorang yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Ia memilih diam meski perlahan melukai dirinya sendiri. Luka tersebut tidak pernah diperlihatkan, semuanya ditutupi dengan senyuman seolah tak ada beban yang sedang dirasakan.

    Di sisi lain, lagu ini juga menggambarkan sikap pasrah dan keikhlasan, ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan, ia memilih menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.

    Dengan balutan aransemen pop sederhana dan easy listening, lagu ini terasa dekat dengan keseharian banyak orang. Perpaduan karakter vokal Risty Ang dan Giant Jay menghadirkan emosi yang jujur, lembut, dan menenangkan.

    Giant Jay berharap, karya kolaborasi ini mampu menjadi pengingat bahwa ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan, diam dan keikhlasan bisa menjadi jalan untuk menemukan hikmah dan rasa syukur dalam kedamaian.

    “Saya berharap ‘Hidup Tanpa Kata’ bisa menjadi teman refleksi bagi pendengar. Semoga lagu ini mampu menguatkan hati dan memberi ketenangan, terutama di momen menjelang Ramadan,” tutur Giant Jay.

    Saat ini, single “Hidup Tanpa Kata” milik Risty Ang featuring Giant Jay sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital mulai Jumat, 6 Februari 2026.

     

    (Red)

  • Lindee Cremona Angkat Sosok Ayah Lewat Single “Senyum Papa”

    Lindee Cremona Angkat Sosok Ayah Lewat Single “Senyum Papa”

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi cilik, Lindee Cremona kembali menghadirkan karya terbaru berupa single berjudul “Senyum Papa” dalam format digital, setelah sebelumnya menyentuh hati pendengar melalui single “Mama”.

    Lagu ini menjadi lanjutan cerita tentang cinta keluarga dari sudut pandang seorang anak, kali ini menyoroti sosok ayah yang kerap terlihat kuat dan penuh senyum, meski menyimpan banyak pengorbanan demi keluarga namun selalu disimpan dalam diam.

    Lagu “Senyum Papa” diciptakan oleh Albert Kenchen. Lewat karya ini, Lindee menyampaikan rasa cinta, kebanggaan, dan doa tulus agar sang papa selalu sehat dan bahagia menjalani hidup.

    Jika lagu “Mama” berbicara tentang kasih ibu yang tak tergantikan, maka single “Senyum Papa” hadir sebagai pelengkap yang mengangkat peran ayah dalam kehangatan keluarga.

    Lindee Cremona, yang akrab disapa Lindee, lahir di Jakarta pada 24 April 2014 dan kini berusia 11 tahun. Ia mulai menekuni dunia tarik suara sejak tahun 2023, saat pertama kali tampil di panggung sekolah dan menunjukkan ketertarikan yang kuat pada musik.

    Sejak saat itu, Lindee terus mengembangkan kemampuannya melalui latihan vokal dan mulai merilis karya-karya dengan pesan positif dan nilai keluarga.

    Dibawakan dengan vokal dan penghayatan yang natural, single Senyum Papa” terasa hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lagu ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tetapi juga dapat dinikmati oleh orang tua dan keluarga secara luas.

    Kesederhanaan lirik dan penyampaian menjadi kekuatan utama yang membuat lagu ini mudah menyentuh perasaan pendengarnya.

    Melalui rangkaian lagu “Mama” dan “Senyum Papa”, Lindee Cremona membangun identitas musikal yang konsisten dengan tema cinta keluarga. Orang tua Lindee berharap musik dapat menjadi media positif bagi tumbuh kembang Lindee, sekaligus bekal untuk masa depannya.

    Ke depannya, Lindee direncanakan untuk terus berkarya dan merilis lagu-lagu baru sebagai bagian dari perjalanan musik jangka panjangnya. Lindee berharap lagu “Senyum Papa” dapat menghadirkan senyum dan kehangatan bagi siapa pun yang mendengarkannya, serta menjadi pengingat sederhana tentang arti kasih sayang seorang ayah.

    Single “Senyum Papa” milik Lindee Cremona resmi dirilis pada 25 Januari 2026 di YouTube serta seluruh platform pemutar musik digital.

     

    (Red)

  • Lewat “Bumi Menangis (Unplugged)”, Man Sinner Suarakan Kepedulian atas Bencana Alam

    Lewat “Bumi Menangis (Unplugged)”, Man Sinner Suarakan Kepedulian atas Bencana Alam

    VISTA NUSANTARA – Grup band skatepunk asal Jakarta, Man Sinner resmi merilis single terbaru berjudul “Bumi Menangis (Unplugged)” sebagai respons atas bencana banjir bandang yang melanda Sumatra dan Aceh baru-baru ini.

    Single ini hadir dalam dua format, yaitu video klip yang tayang perdana pada 9 Januari 2026 di kanal YouTube resmi Man Sinner, serta versi audio yang akan tersedia di berbagai platform musik digital mulai 9 Februari 2026.

    Man Sinner yang digawangi oleh Achmad Alwan Damanik (vokal/gitar), Agga Satria Prabowo (gitar), Nero Riansyah (bass/vokal latar), dan Agung Bahtiar (drum) dikenal dengan musik berenergi tinggi. Namun dalam karya ini, mereka memilih pendekatan berbeda dengan tempo lebih tenang agar pendengar dapat lebih fokus pada kekuatan pesan lirik.

    “Kami ingin siapa pun yang mendengar lagu ini bisa ikut merenung dan mencipta perubahan. Perubahan tidak akan terjadi jika tidak dimulai dari diri sendiri, lalu menyebar ke orang lain,” ujar Achmad Alwan Damanik dalam keterangan tertulisnya.

    Lagu “Bumi Menangis (Unplugged)” merupakan versi terbaru dari lagu utama dalam album “Bumi Menangis” yang dirilis pada 2020. Keputusan untuk mengemas ulang dengan aransemen berbeda diambil karena pesan liriknya dinilai relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

    “Lirik lagu ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghentikan eksploitasi berlebihan terhadap Bumi. Jika tidak, alam akan mencari keseimbangannya sendiri melalui bencana yang pasti memakan korban,” kata Agga Satria.

    Video klip lagu ini menampilkan rangkaian visual dari berbagai peristiwa banjir di Indonesia, dipadukan dengan dokumentasi eksploitasi hutan yang dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Strategi ini dipilih agar pesan lagu lebih mudah ditangkap oleh publik yang kini cenderung lebih visual.

    “Di era media sosial dan gawai seperti sekarang, manusia lebih cenderung menjadi makhluk visual. Kami berharap pesan lagu ini lebih kuat tersampaikan lewat format video klip,” tutur Nero Riansyah.

    Setelah perilisan single ini, Man Sinner dijadwalkan tampil di sejumlah panggung musik di kawasan Jabodetabek sepanjang Januari hingga Februari 2026. Agenda rekaman dua lagu baru yang semula direncanakan pun ditunda demi fokus pada karya ini.

    “Karya ini digarap secara spontan setelah melihat peristiwa bencana kemarin. Jadwal rekaman dua lagu baru kami tunda dulu,” ucap Agung Bahtiar.

     

    (Red)

  • Musisi Lokal Bersinar, Solois Austria Nono Runo Curi Perhatian di Connect Festival 2025

    Musisi Lokal Bersinar, Solois Austria Nono Runo Curi Perhatian di Connect Festival 2025

    VISTA NUSANTARA – Bandung kembali semarak menjelang penghujung tahun melalui gelaran Connect Festival 2025 atau ConFest yang diselenggarakan oleh Event Organizer Bandung di Kopiluvium Bandung pada Sabtu, 20 Desember 2025. Acara ini menjadi ajang penutup tahun yang menghadirkan ragam pertunjukan musik dari musisi lokal hingga internasional.

    Sejumlah penampil lokal mengisi panggung ConFest 2025, di antaranya R Beat, 51 Esvara, Kinanti, serta solo gitaris jebolan ajang pencarian bakat Ale Funky yang tampil dengan energi penuh dan berhasil memikat para pengunjung. Kehadiran mereka memperkuat karakter ConFest sebagai wadah apresiasi bagi talenta musik Bandung.

    Tidak hanya menghadirkan musisi lokal, festival ini turut dimeriahkan oleh penampilan solois internasional asal Austria, Nono Runo, yang sukses mencuri perhatian penonton melalui performanya yang komunikatif dan penuh warna.

    Enk selaku founder Event Organizer Bandung menyampaikan harapannya agar ConFest dapat menjadi langkah awal dalam membuka peluang lebih luas bagi musisi internasional untuk tampil di Bandung. Menurutnya, kota Bandung memiliki potensi kuat sebagai barometer penyelenggaraan event musik di Indonesia.

    “Dengan event perdana ini, diharapkan bisa menjadi salah satu langkah awal pembuka bagi musisi-musisi internasional melihat bahwa Kota Bandung dapat menjadi barometer event musik di Indonesia,” ujar Enk.

    Gelaran Connect Festival 2025 menutup tahun dengan optimisme baru bagi ekosistem musik lokal, sekaligus memperkuat citra Bandung sebagai kota kreatif yang konsisten menghadirkan ruang bagi karya dan kolaborasi lintas negara.

     

    (Red)

  • Rilis EP Perdana, Albert Tanabe Siapkan Showcase dan Tur Promosi ‘Pendar di Matamu’

    Rilis EP Perdana, Albert Tanabe Siapkan Showcase dan Tur Promosi ‘Pendar di Matamu’

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi dan penulis lagu asal Indonesia, Albert Tanabe, resmi merilis EP perdananya yang bertajuk “Pendar di Matamu” pada 6 Desember 2025 dalam format digital. Mini album ini memuat tiga lagu utama, yaitu “Tak Lagi Menjadi”, “Pendar di Matamu”, dan “Walau Tuk Sementara”, serta satu versi tambahan dari lagu terakhir dalam format extended version.

    Dalam keterangannya, Albert menjelaskan bahwa EP ini mengusung tema besar mengenai perjalanan cinta. Setiap lagu dalam EP tersebut dirancang sebagai bagian dari satu rangkaian cerita yang saling berkesinambungan.

    “Materi lagu ini saya kumpulkan dalam setahun terakhir dan memang menjadi trilogi dengan satu cerita besar,” ucapnya.

    Lagu “Walau Tuk Sementara” dipilih sebagai fokus utama dari EP ini. Sementara lagu “Pendar di Matamu” sudah dbuatkan versi video klipnya dan dirilis pada 11 Desember melalui kanal YouTube resmi Albert Tanabe.

    Albert Tanabe menambahkan bahwa alur cerita dalam video klip juga dibuat berkesinambungan, sebagai bagian dari narasi visual yang mendampingi trilogi musik tersebut.

    “Kita akan lepas video klip ketiga lagu di EP ini secara berkala, mengikuti alur cerita dalam lagunya,” kata Albert Tanabe.

    Albert Tanabe dikenal sebagai musisi yang mengedepankan kejujuran emosional dalam karya-karyanya. Ia aktif merilis lagu-lagu berbahasa Indonesia dan Inggris yang mengangkat tema patah hati, kehilangan, dan pencarian jati diri.

    Beberapa karya sebelumnya yang mendapat perhatian publik antara lain “Tomorrow I’ll Be Gone”, “Not the Time to Say Goodbye”, dan “Meledak Ledak”.

    Selain karya solo, Albert juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah musisi ternama. Ia pernah merilis lagu “Aku Takut” bersama Denny Chasmala, serta “Meski Tak Lagi Kau Dengar” yang melibatkan Eross Candra dari Sheila on 7.

    Kolaborasi tersebut memperkaya warna musikalitas Albert yang dikenal dengan gaya pop emosional dan lirik yang reflektif.
    “Penggarapan EP Pendar di Matamu menjadi pengalaman pertama bagi saya untuk bereksplorasi secara bebas. Karena sebelumnya, ada banyak campur tangan musisi besar yang membantu saya,” ujar Albert, menandai fase baru dalam perjalanan kreatifnya sebagai musisi independen.

    Usai merilis EP “Pendar di Matamu” Albert Tanabe telah mengagendakan gelaran showcase khusus untuk memperkenalkan karya ini ke khalayak. Dalam waktu dekat, ia juga akan menyambangi sejumlah kota dalam rangkaian tur promosi.

    Langkah ini, kata Albert, diharapkan bisa mendekatkan dirinya sebagai penyanyi dengan para pendengarnya.

    “Tunggu saja informasi mengenai rencana showcase dan tur promosi ini di Instagram Albert Tanabe,” tuturnya.

    Saat ini, seluruh materi dalam EP “Pendar di Matamu” milik Albert Tanabe sudah tersedia di berbagai platform musik digital. Sementara video klipnya akan dirilis secara berkala di kanal YouTube Albert Tanabe.

     

    (Red)

  • Chrisalia Rilis Single “Akhir Cerita”: Penutup Manis dari Sebuah Perjalanan Emosional

    Chrisalia Rilis Single “Akhir Cerita”: Penutup Manis dari Sebuah Perjalanan Emosional

    Lagu baru ini jadi refleksi tentang keberanian untuk melepaskan dan mengikhlaskan

    VISTA NUSANTARA – Penyanyi muda berbakat Chrisalia, yang akrab disapa Cici Fei atau dikenal lewat kanal Cici Suka Nyanyi, kembali menyapa para pendengarnya lewat karya terbaru berjudul “Akhir Cerita.” Setelah sukses dengan dua single sebelumnya, “Hari Bersamamu” dan “Rindu,” kini Chrisalia menghadirkan sesuatu yang lebih dalam dan menyentuh.

    Lagu Tentang Keputusan untuk Mengakhiri dengan Damai

    Lewat “Akhir Cerita,” Chrisalia menggambarkan fase ketika seseorang akhirnya memilih untuk berhenti memaksakan perasaan yang tak lagi sejalan. Bukan karena menyerah, tetapi karena sudah saatnya berdamai dengan kenyataan. “Kadang mengakhiri justru bentuk cinta yang paling tulus,” ujar Chrisalia tentang makna di balik lagunya.

    Lagu ini diproduseri oleh Racka Fandiana dan Beraldy Dean, menghadirkan genre cinematic pop ballad dengan aransemen orkestra dan percussion megah yang menambah kesan dramatis. Hasilnya, lagu ini terdengar seperti soundtrack film yang penuh makna — menggugah hati sekaligus menenangkan.

    Proses Produksi Singkat dengan Sentuhan Personal

    Menariknya, proses pengerjaan “Akhir Cerita” terbilang cepat. Dari workshop, rekaman, hingga sesi foto dan pembuatan video musik, semua berjalan efisien tanpa mengurangi kedalaman pesan yang ingin disampaikan. Chrisalia mengaku banyak menyalurkan emosi pribadinya dalam lagu ini, sehingga terasa jujur dan dekat dengan realitas kehidupan banyak orang.

    Pesan yang Menyentuh: Tidak Semua Akhir Itu Sedih

    Lewat lagu ini, Chrisalia berharap para pendengarnya dapat belajar menerima akhir dengan hati yang lapang. “Tidak semua akhir itu menyedihkan. Kadang, itu cara semesta memberi ruang untuk cerita baru,” tuturnya.

    Single “Akhir Cerita” sudah tersedia di berbagai platform digital sejak 24 Oktober 2025, sementara video musiknya akan tayang perdana pada 31 Oktober 2025 di kanal YouTube Ruang Dimensi Records.

    Dengan “Akhir Cerita,” Chrisalia menunjukkan kematangan musikal dan emosionalnya sebagai penyanyi muda yang tak hanya bernyanyi, tapi juga bercerita — dengan cara yang tulus dan penuh rasa.***

  • Supergroup Loh Kok Tum Band Sajikan 11 Lagu Hits dan Kejutan Unik di Atas Panggung

    Supergroup Loh Kok Tum Band Sajikan 11 Lagu Hits dan Kejutan Unik di Atas Panggung

    VISTA NUSANTARA – LOH KOK TUM BAND kembali bikin gebrakan lewat penampilan spektakuler mereka di W Super Club Jakarta. Band supergroup yang digawangi Ello Tahitoe, Yuke Sampurna (DEWA 19), Eno Gitara (NTRL), Stevie Item (Andra & The Backbone), Magi Trisnandi (/RIF), dan Reno Fahreza (Nevach) ini sukses menghipnotis penonton dengan setlist berisi 11 lagu pilihan dari repertoar rock Indonesia hingga internasional.

    Deretan lagu yang dibawakan antara lain Radja (/RIF), Aku Cinta Kau dan Dia (The Rock), Sorry (Netral), Masih Ada (Ello), hingga Sempurna (Andra & The Backbone). Mereka juga menghadirkan nuansa berbeda dengan membawakan karya band internasional seperti The Cranberries, Pearl Jam, hingga 311.

    Tak hanya soal lagu, kejutan terbesar malam itu adalah saat hampir semua personil bertukar posisi di atas panggung. Ello yang biasanya memegang gitar, beberapa kali berganti peran menjadi vokalis, drummer, hingga bassis. Reno yang awalnya bermain keyboard mendadak jadi gitaris sekaligus vokalis. Sementara itu, Yuke sempat meninggalkan posisi bass untuk maju sebagai vokalis.

    Momen paling spesial terjadi saat Ello mengambil alih bass dan Yuke tampil sebagai vokalis dalam membawakan lagu Benci Mencinta milik Naif. Interaksi unik ini sontak membuat penonton bersorak dan ikut bernyanyi bersama.

    Satu-satunya personil yang tetap setia pada posisinya malam itu adalah Eno Gitara, yang konsisten menggebuk drum dan menjaga groove di balik semua eksperimen panggung tersebut.

    Dengan aksi penuh energi, aransemen segar, serta kejutan pergantian peran antar personil, LOH KOK TUM BAND membuktikan diri bukan sekadar supergroup biasa, melainkan juga tontonan penuh kreativitas yang sulit ditebak.

     

    (Red)

  • Mia Ismi Tampilkan “Main Cantik” dengan Nuansa Dark Pop di Main-Main Cipete Vol. 26

    Mia Ismi Tampilkan “Main Cantik” dengan Nuansa Dark Pop di Main-Main Cipete Vol. 26

    VISRA NUSANTARA – Gelaran musik mingguan Main-Main di Cipete kembali digelar pada Senin malam, 15 September 2025, di Casatopia Cafe, Cipete. Memasuki edisi ke-26, acara ini menghadirkan lima musisi dengan karakter musikal yang beragam, mulai dari pop alternatif hingga eksperimental.

    Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipandu oleh Eno Suratno Wongsodimedjo dan Qenny Alyanno, dua figur yang telah menjadi host tetap sejak awal penyelenggaraan. Tanpa tiket masuk dan terbuka untuk umum, Main-Main di Cipete terus menjadi ruang ekspresi bagi musisi independen dan komunitas penikmat musik lokal.

    Penampilan dibuka oleh Reza Miranda, musisi asal Pontianak yang dikenal lewat lagu-lagu bertema relasi dan pencarian makna seperti “HTS” dan “Wajar” yang diambil dari EP terbaru berjudul “1994”.

    Keriaan makin semarak saat solois Sabarian kemudian tampil membawakan “Detik Menit”, sebuah lagu reflektif tentang waktu dan kebersamaan yang sempat viral di media sosial.

    Sujar Band, grup asal Ciledug, membawakan sejumlah lagu nostalgia seperti “Ku Akui”, “Malaikat Tak Bersayap”, serta karya orisinal mereka “Memilih Dimiliki”.

    Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari penonton yang sebagian besar mengenal lagu-lagu tersebut dari era awal 2000-an.

    Tirta Adilla, mantan vokalis Drive, hadir dalam format solo dan tampil dengan lagu “Reinkarnasi” yang mengangkat tema kehilangan dan harapan akan pertemuan kembali.

    Lagu tersebut menjadi penanda kembalinya Tirta ke dunia musik dengan pendekatan yang lebih personal dan kontemplatif.

    Penutup malam diisi oleh Mia Ismi, satu-satunya wakil Indonesia dalam proyek global The World Album. Ia membawakan “Main Cantik (Dangerous Game),” lagu bilingual yang mengangkat isu manipulasi dalam hubungan.

    Dengan aransemen dark pop dan penggunaan biola bambu, Mia menghadirkan nuansa eksperimental yang berbeda dari penampil lainnya.

    Main-Main di Cipete Vol. 26 kembali membuktikan eksistensinya sebagai wadah penting bagi musisi alternatif di Jakarta. Dengan atmosfer yang intim dan dukungan komunitas yang solid, acara ini terus menjadi ruang tumbuh bagi karya-karya yang jujur dan berani.